Rabu, 21 November 2012

ZOMBIE




Teringat kata-kata salah seorang guru, bila kita merasa biasa-biasa saja saat melakukan maksiat pertanda hati kita telah mati. Memori ini membuat saya sangat merinding, bagaikan ada godam berton-ton yang memukul kepala dan kesadaran saya, seolah-olah nyawa ini akan tercerabut dari jasadnya, ternyata mungkin hati saya telah lama mati.
Kemunculan memori tentang pesan sang guru itu memaksa saya mencoba kembali memutar rekaman-rekaman memori kehidupan saya yang lain, lebih khususnya memori tentang segala perilaku dan perbuatan yang pernah dan selalu saya lakukan, dalam istilah “agama saya” biasa disebut dengan “muhasabah”. Bagaimana tidak saya merasa bergetar, saya dapati kenyataan bahwa begitu banyak ternyata dosa yang saya lakukan tanpa ada perasaan berdosa, atau saya merasa biasa-biasa saja, bahkan saya menganggapnya sebagai hal yang wajar atau manusiawi untuk dilakukan.
Contoh kecil, dalam sehari entah berapa kali saya dengan lancangnya meminjam jubah Tuhan berupa kesombongan, saat saya menganggap diri saya ini baik, saya menganggap orang lain buruk, saya menggunjingkan perilaku orang lain yang saya anggap buruk, atau bila diingat-ingat entah berapa banyak kebohongan yang sudah saya keluarkan dengan lisan ini, dengan berbagai alasan pembenaran saya mengucapkan berbagai kebohongan dengan begitu ringannya, padahal saya sangat sadar saya itu bohong, dan saya sangat tau bohong itu adalah dosa. Melalaikan ibadah pun dengan begitu entengnya dilakukan.
Dan memang nampaknya saat ini tanpa disadari banyak orang yang hidup layaknya zombie, kita lihat betapa budaya gossip sekarang menjadi makanan sehari-hari, banyak wanita muslim yang dengan biasa saja bahkan bangga mempertontonkan auratnya, orang-orang melakukan korupsi sudah dengan terang-terangan, muda-mudi yang dengan santainya dan tanpa risih sedikitpun mempertontonkan kemesraan dengan kekasihnya yang jelas-jelas belum menjadi muhrimnya, ah tapi tak perlulah saya melihat orang lain dulu, diri saya pun sehari-hari masih terus melakukan maksiat dengan begitu santainya. Iri dengki, kesombongan, kebohongan, keserakahan tanpa saya sadari telah saya pelihara sehingga tumbuh dengan demikian besarnya.
Bila dihisab nanti dihari dimana semua amal dipertanggung jawabkan, dan dimana seluruh tubuh ini diminta persaksian, nampaknya saya akan termasuk kedalam golongan kiri, saya tak mampu menjaga amanah jasad yang Tuhan titipkan pada saya, mata ini setiap hari saya biarkan menikmati pemandangan yang seharusnya bukan hak saya untuk memandangnya, telinga ini saya jejali dengan hal-hal yang bukan seharusnya saya dengar, lisan ini tiada hentinya mengeluarkan kata-kata kebohongan, kedengkian, kesombongan dan dosa-dosa lainnya. Tangan ini entah berapa banyak dosa yag telah diperbuatnya, kaki ini entah telah berapa banyak dilangkahkan menuju acara-acara bermaksiat ria, darah ini pun nampaknya telah pekat dengan harta haram.
Celakanya saya merasa biasa saja dengan semua itu, ibadahpun kulakukan tak membuat hatiku menjadi lembut malah hatiku semakin keras membatu, tak jarang dengan sengaja kupertontonkan ibadahku hanya untuk dilihat sebagai orang yang taat, bahkan kebanyakan ibadahku kulakukan tanpa rasa lagi didalamnya, tak sedikit ibadahku bukan benar-benar untuk-Nya tetapi justru untuk memaksa Dia memenuhi nafsu duniaku.
Bukankah kematian terburuk adalah matinya jiwa sedangkan raga ini masih hidup? Yah selama ini ternyata saya telah hidup seperti zombie, semoga masih cukup waktuku  untuk kembali menghidupkan hati yang telah mati, semoga Allah Sang Maha Rahiim berkehendak menganugerahkanku husnul khotimah, dan memberikanku kesanggupan untuk kembali menghidupkan hatiku dan menggunakan jasadku sesuai dengan aturan dan kehendak-Nya.

Pertapaan Aster 81
8 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar