Rabu, 21 November 2012

CINTA LATTE




Malam telah cukup larut, hasrat untuk pulang ke rumah pun saya urungkan sejenak, nampaknya saya harus sedikit mereview, merenungi dan mencoba memaknai perjalanan beberapa hari ini, saya pun memutuskan masuk kembali ke sebuah café yang baru saja saya tinggalkan bersama seorang client terakhir saya, sambil memesan secangkir Hot Capucino, dan menikmati alunan musik jazz yang diputar fikirankupun mulai menerawang, Entah kenapa beberapa hari ini beberapa client yang kuhadapi hampir semuanya tentang kisah percintaan sepasang umat manusia, ada yang bercerita tentang rumah tangganya yang mulai kurang harmonis, ada yang mengeluhkan tentang sikap pasangannya, ada yang bercerita tentang calon kekasihnya yang dilamar orang lain namun dirinya tidak memiliki keberanian untuk mendatangi orang tua kekasihnya dan melamarnya, dan ada juga yang bercerita tentang kekasihnya yang akan menikahi wanita lain yang dipilihkan orangtuanya.

Dari semua cerita diatas semuanya memiliki kesamaan yaitu bercerita tentang orang yang dicintainya, dan dari semua yang menuturkan kisahnya semuanya memiliki alasan yang cocok dengan perasaan mereka sehingga membuat mereka menyukai dan mencintai kekasihnya itu.

Inilah yang terjadi sering dari kita mencintai seseorang karena alasan yang disadari ataupun tidak alasan itu adalah alasan kecocokan dengan harapan dan kesukaan ego diri kita, alasan-alasan itulah yang membuat diri kita menerima atau menjadikan seseorang menjadi pasangan kita, namun celakanya ketika dikemudian hari ternyata alasan kita mencintai dan menyukai itu sudah hilang atau habis maka dengan mudahnya alasan tidak ada lagi kecocokan dengan pasangan menjadi dasar hancurnya mahligai rumah tangga yang sudah dijalani dan dibangun selama bertahun-tahun, serta mengorbankan banyak pihak terutama anak-anak.

Tiba-tiba ingatan saya melayang pada kisah yang saya dapatkan beberapa tahun silam,dan setiap kali membacanya, tidak sedikitpun perasaan mengharu biru di hati ini berkurang, membuat diri ini mendadak menjadi sangat melankolis atau sentimental, hehehe, dibawah ini sebuah kisah tentang keluh kesah seorang isteri yang merasa sudah kehilangan alasan-alasan yang membuatnya dulu mencintai suaminya :

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan". Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lsayakan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok.". Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ...

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

" Sayang ketika kamu mengetik di komputer lalu program-program di PC-nya kacau dan akhirnya kau menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya dan kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu.

Sayang, kamu juga selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Sayang, kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk menunjukkan jalan kepadamu.

Sayang, kamu selalu sakit dan pegal-pegal pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

Cinta, ketika kamu sedang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi "aneh". Maka saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.

Cinta, kamu terlalu sering menatap layar kaca TV dan Komputermu serta membaca buku sambil tiduran dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, maka saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Saya tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barangku, dan saya tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagia saya bila kau bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Aku peluk dia penuh kebahagiaan, oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.

*******

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, padahal tanpa kita sadari Cinta itu telah terwujud dalam bentuk yang lain walau tidak sesuai dengan wujud yang kita harapkan
Seringkali kali kita menuntut Cinta kepada pasangan kita, namun jarang terfikir oleh kita sejauh mana Cinta yang telah kita berikan padanya. Berikan Cinta Kasih yang tulus kepadanya, kalaupun dia belum membalasnya yakinlah Allah pasti akan membalas dan membisikkan CintaNYA kepadanya untuk diberikan kepada kita.

Di bawah naungan ajaran Agama, kedua pasangan suami istri dituntun untuk menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.

Dari setiap masalah rumah tangga yang saya hadapi, bila saya Tanya tentang tujuan hidup dan pernikahan mereka, hampir semuanya mereka tidak memiliki arah tujuan yang jelas, mau dibawa kemana sesungguhnya biduk rumah tangga mereka, hasil akhir apa yang sebenarnya ingin mereka capai dalam menjalankan roda rumah tangga, sehingga mereka tidak memiliki acuan dan arahan yang jelas tentang bagaimana dan seperti apa seharusnya mereka menjalani rumah tangga, dan pada saat terjadi perselisihan dalam rumah tangga mereka bingung karena tidak memiliki arahan kemana mereka harus mengembalikan arah dan menyamakan kembali persepsi.

Saat kamu akan menikah ingat apa tujuan hidupmu dan tujuanmu menikah, apapun yang kamu lakukan maka arahkanlah semuanya kepada tujuan akhirmu, dan kerahkan semua sumberdaya untuk mencapai tujuanmu itu, maka saat kamu akan menikah gak peduli kamu menikahi pasanganmu itu karena ada rasa atau tidak ada rasa, suka atau tidak suka, pake nafsu atau tanpa nafsu, yang paling penting adalah Ijab Qobul, atau akad di awal sebelum menikah tentang tujuan kalian menikah itu apa, kesepakatan, kesamaan tujuan dan kesamaan persepsi adalah modal utama membangun biduk rumah tangga.

Teringat pepatah jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino : Tumbuhnya cinta karena seringnya bertemu” dengan kamus kebodohan saya, saya memahami pepatah ini bahwa rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya bila dalam perjalanan semakin mampu bekerjasama, bersinergi dan membangun harmoni dalam membina dan menjalani hidup bersama dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan melalui ajaran agama yang diturunkan-Nya kepada kita.

Semoga saja bila nanti saya diberikan amanah keluarga, saya mampu membawa keluarga yang diamanahkan Tuhan itu menuju jalan cahaya, yaitu jalan kebahagiaan yang Tuhan tunjukkan untuk hamba-hamba-Nya, sehingga saya mampu membawa keluarga pulang sebagai perantau yang berhasil yang disambut Tuhan dengan penuh suka cita dan kerinduan serta mendapatkan jamuan terbaik dari cinta-Nya

"Mereka (pasanganmu) itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka." (2:187)

Salam, 
Kota Bunga Utara,
Penghujung Malam 12 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar