Rabu, 21 November 2012

SISA ASA SANG DURJANA



Dipenghujung malam aku kembali termenung... merenungi diri dan mencoba menakar timbangan diri dengan qodar Ilaahi... Astaghfirullaah... ternyata betapa tak ada sedikitpun kemuliaan dalam diri... betapa cela dan nista telah melingkupi diri dan hati ini... betapa dosa dan sikap durjana telah menjadi pengisi hari-hariku... gelimang dosa telah bersatu dalam setiap gerak, langkah dan kata2ku... bahkan dalam setiap lintasan hati dan anganku...

Aku berharap cinta Sang Pemilik Cinta... tetapi dalam hatiku hanya tercipta cinta akan indahnya dunia... Aku berharap menjadi hamba yang berserah pasrah pada kuasa Ilahiah... tapi dalam setiap asa dan usahaku nyatanya hanya bergantung pada harta dan kuasa sesama manusia... Aku berharap menjadi manusia mulia... tapi kenyataannya hatidan diri ini hanya berhias dosa dan nista...

Sungguh aku adalah durjana... yang sombong dengan segala kekurangan dan keterbatasan... aku selalu merasa menjadi manusia paling mulia... padahal sesungguhnya aku adalah manusia hina... aku merasa paling mengetahui tentang hakikat... padahal aku hanyalah sang pandir yang tak mengetahui apa2... aku merasa sebagai manusia maha bijaksana... padahal sesungguhnya aku manusia penuh cela... aku merasa manusia paling bertaqwa... padahal hidupku penuh dengan gelimang dosa... aku merasa menjadi seorang ahli zuhud... padahal hidupku hanya berisi tentang asa kesenangan dunia semata...

Duhai Robbi... sungguh aku sangat malu... sungguh kini tak kuasa hamba untuk menghadap-Mu... aku terlalu malu untuk menemui-Mu... bahkan aku tak berani walaupun hanya sekedar berharap pada-Mu...
Duhai Robbi... tapi ku tahu maghfirahmu bagaikan samudra tanpa tepi... kasih sayang-Mu bagaikan cakrawala tanpa batas... cahaya-Mu mampu menembus segala hijab, menjangkau segala penjuru dan menerangi semua gulita... kelembutan-Mu mampu meluluh lantakkan segala karang dan aral yang melintang... dan cinta-Mu bagaikan oase yang setiap tetes isinya mampu menyembuhkan segala dahaga dan memadamkan segala bara yang menggelora...

Duhai Robbi... di sisa usiaku... ku coba tuk mengumpulkan sisa2 kuasa dan keberanianku... walaupun dengan terseok... dengan sisa tenaga hamba berjalan menghadap-Mu... dengan hati tertunduk menahan rasa malu... kutambatkan sisa asa ku pada cinta dan keagungan-Mu

Yaa Ilaahi... aku adalah sang durjana yang ingin kembali mulia... pada cinta, kasih sayang dan keagungan-Mu aku berpasrah... pada kuasa-Mu aku kembali memohon pertolongan... tarik aku kembali masuk dalam istana cinta-Mu... dekap aku dalam pelukan keagungan-Mu... belai aku dengan kelembutan-Mu... sinari hatiku dengan cahya kemulyaan-Mu... mandikan dan sucikan aku dengan maghfirah-Mu... dan biarkan diri ini kuyup dengan hujan kasih sayang-Mu...

Yaa Ilaahi... berilah aku hati yang selalu merindukan-Mu... akal yang hanya berfikir segala tentang-Mu... jasad yang hanya bekerja untuk dan bersama-Mu... dan jiwa yang selalu haus akan buaian cinta dan kasih sayang-Mu... duhai Robbi anugerahilah aku cinta-Mu... dan rasa cinta pada semua yang mencintai-Mu... dan rasa cinta pada segala

yang bisa membuat aku mendapatkan cinta-Mu... duhai Robbi jadikanlah cinta-Mu sebagai satu2nya cinta yang bersinar dalam hatiku... dan jadikanlah bagiku cinta-Mu lebih berharga dari segelas air bagi sang dahaga di penghujung usia...

Yaa Ilaahi Robbi... cukuplah Engkau bagiku dan hanya Engkau yang ingin kurindu...

Pertapaan Pangestu Imani,
Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar