Kamis, 29 November 2012

SEKEPING CINTA UNTUK IBU


Malam itu saya bersama si pandir sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi panas di sebuah café yang terletak di daerah perbukitan sambil menikmati indahnya pemandangan dan suasana alam di malam itu. Tiba-tiba tanpa sengaja kami bertemu sepasang suami isteri yang tampak sangat familiar, yah itu ternyata adalah salah seorang kawan lama, dia adalah bani beserta istrinya, senior kami di sebuah organisasi, sudah hitungan tahun kami tidak bertemu.

Kamipun saling menyapa gembira,cukup terharu bisa bertemu secara tak sengaja di tempat itu, lalu kamipun asyik mahsyuk tenggelam dalam perbincangan hangat penuh kerinduan, ternyata kawanku Bani sekarang menjadi seorang relawan di sebuah organisasi kemanusiaan Internasional, dia memiliki jabatan cukup tinggi, dia bercerita berbagai pengalamannya dalam aksi-aksi kemanusiaan, dia bilang sungguh menyenangkan bisa membantu dan membahagiakan banyak orang di berbagai belahan dunia. saya lalu bercanda pada istrinya, wah mbak nggak takut tuh ditinggal-tinggal pergi mas bani, nggak takut mas nya  kepincut cewek-cewek luar?!

Kucandai seperti itu istrinya lalu melirik sambil tersenyum mesra pada suaminya, lalu menggelayutkan diri pada tangan suaminya, saya percaya sekali sama mas bani, dan sudah 15 tahun pernikahan kami, mas bani tetap menjadi seorang pria luar biasa yang selalu mesra dan bisa selalu membahagiakan saya, mendengar ucapan istrinya bani tertawa, lalu dia bilang, setiap ada waktu luang saya selalu mengajak istriku berbulan madu, sedikitnya sekali dalam sebulan, dan kegiatan ini sudah rutin saya lakukan selama 15 tahun masa pernikahan kami, yah tentunya bagaimanapun kebahagiaan keluarga saya adalah nomor satu, bagaimana mungkin saya bergelut menghabiskan hidup saya untuk membahagiakan banyak orang tetapi anak isteri saya tidak mampu saya bahagiakan.

Wah jujur saat itu saya merasa sangat kagum dengan sosok seniorku itu, dia hidup menjadi pahlawan bagi banyak orang dan bagi keluarganya, ditengah saya sedang sibuk mengagumi sosok mas bani ini, kawanku pandir nyeletuk, gimana dengan ibumu mas apa kabar? Terakhir di telpon keadaan nya baik shob, jawab bani, kapan terakhir ketemu Ibu? Tanya pandir lagi, lebaran kemarin shob. Wah lama juga yah mas, sering telpon ibu? Yah lumayan, minimal sebulan sekali saya sempatkan sekalian saya mengirim uang untuk ibu, yah berbagi sedikit kebahagiaan juga dengan ibu shob, jawab bani. Pandir melanjutkan pertanyaannya, yakin mas ibu sudah cukup bahagia dengan kiriman uang dari sampean itu? Selama menikah sudah berapa kali sampean ngajak ibu sampean makan bersama seperti sampean ngajak makan diluar istri sampean?

Mendapat berondongan pertanyaan dari si pandir raut muka mas bani mulai berubah memucat, dengan suara yang berubah menjadi berat mas bani menjawab, astaghfirullaah, terimakasih shob ente udah ngingetin saya, selama 15 tahun setelah saya menikah belum pernah sekalipun saya mengajak ibu saya untuk menikmati makan bersama di luar,saya hanya berfikir saya sudah merasa berbakti dengan mengiriminya uang setiap bulan, tanpa saya pernah bertanya bagaimana ibuku ingin kubahagiakan. Lalu istrinya tersenyum dan berkata mas minggu depan kan kamu libur, coba sekarang telpon ibu dan bilang sama ibu minggu depan kamu bakal ngajak ibu jalan-jalan.

Saat itu juga mas bani menelpon ibunya, sengaja suaranya dia keluarkan lewat loudspeaker biar kami semua mendengarnya, Ibunya mas bani seorang janda,beliau ditinggal mati suaminya saat mas bani duduk di bangku SD,yang akhirnya terpaksa ibunya harus menjadi single parent yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi mas Bani anak semata wayangnya, tiba-tiba terdengar suara tua ibu mas bani mengangkat telpon, lalu ibunya dan mas bani saling bertanya kabar, kemudian mas bani berkata pada ibunya, bu minggu depan bani libur 3 hari, rencananya bani mau ngajak ibu jalan-jalan ke bandung, bani pengen ngajak ibu mengunjungi tempat-tempat yang dulu suka ibu certain sebagai tempat penuh kenangan antara ibu dan ayah, sekalian bani ajak ibu makan di restoran favorit ibu dimana ibu suka ngajak bani makan disitu kalau pas lagi liburan? Gimana bu,kalau ibu bersedia jum’at sore bani jemput? Tanya bani pada ibunya.

Nampaknya ibunya merasa heran, dia malah balik bertanya, anakku apakah terjadi sesuatu padamu? Tidak bu tidak terjadi apa-apa sama Bani,berulang kali ibunya bertanya seperti itu dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh mas bani, setelah yakin akhirnya ibunya mendesah dan bilang syukurlah kalau memang gak terjadi apa-apa sama kamu anakku, beneran nih ibu jalan-jalan sama kamu? iya bu, ibu jalan-jalan sama bani, terus menantu sama cucu ibu diajak juga kan? Iya diajak, tapi nanti istri sama anak bani Cuma bisa nemenin ibu sehari pas hari minggu saja,mereka menyusul nanti,soalnya anak bani kan sekolah bu, yah dengan sangat senang hati ibu mau ban, sudah 15 tahun yah sejak kamu menikah kita belum pernah pergi sama-sama lagi? Iya bu, kalau gitu sampai ketemu hari jum’at yah bu,dan mas banipun mengakhiri telponnya.
Yah itulah cerita saat bersama temanku pandir bertemu dengan mas bani, tiba-tiba seminggu yang lalu kami mendapat kabar kalau ibunya mas Bani meninggal dunia, saya bersama pandir akhirnya memutuskan untuk datang bersama-sama menemui senior kami itu di acara tahlilan 7 hari ibunya mas bani, kami melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah mas bani masih begitu Nampak dengan sangat jelas, saat melihat kedatangan kami, mas bani langsung memeluk kami dan tangisnyapun pecah tak tertahankan.

Setelah selesai acara tahlilan mas bani mengajak kami berbincang di halaman belakang rumahnya, sudah tersedia 3 cangkir kopi dan cemilan, dengan tatapan mata nanar ke langit, mas bani mulai bercerita, tempo hari setelah pertemuan kita di café itu, hari jum’at pekan depannya saya menepati janji saya mengajak ibu jalan-jalan, saat saya menjemputnya, ibu tampak sudah sangat siap dan wajahnya begitu gembira, raut kebahagiaan itu begitu tampak jelas diwajahnya, yang baru kusadari kalau dia ternyata sudah semakin tua, saat melihat mobilku datang,ibu langsung sedikit berlari menghambur keluar menyambutku, saat saya turun dari mobil ibu langsung memeluk dan menciumiku, saat kutanya apa ibu sudah siap? Ibuku menjawab wah ibu sih sudah siap sejak siang tadi, dan semua persiapan sudah ibu lakukan sesaat setelah kamu telpon ibu minggu lalu, dan tau tidak ban, tak ada satu pun tetangga di Blok ini yang tak ibu kabari,mereka iri loh sama ibu, karena punya anak sebaik kamu, dan mereka tiba-tiba banyak yang merengek meminta diajak jalan sama anak-anaknya.

Jujur saat itu muncul perasaan sangat berdosa dihati saya, ternyata sudah begitu lama saya membiarkan ibu dalam kesendirian, nampaknya ibu sangat merindukan saat-saat seperti waktu itu, dan saat yang dinantikannya pun akhirnya datang juga, saat itu kami benar-benar menikmati kebersamaan kami, saya benar-benar melihat ibu yang begitu bahagia, bahkan saat dalam perjalanan menuju bandung kami sempat mampir ke sebuah restaurant,dan kalian tau saat itu ibuku tidak memesan makanan, dia sibuk memandangiku dengan tatapan bahagia, dia bilang selera makan ibu sudah hilang karena ibu terlalu bahagia,gak percaya kalau ibu sekarang lagi bareng sama kamu. Saya pun saat itu menjanjikan pada ibu kalau saya akan mengajak ibu jalan-jalan seperti ini lagi, mendengar janji saya itu ibuku tersenyum bahagia penuh harap. Namun karena terlalu larut dengan kesibukan saya, ternyata sayapun melupakan janji saya sama ibu dan kembali membiarkan ibu berlama-lama dalam kesendirian hingga akhirnya bagai disambar petir saat tiba-tiba saya mendapat telpon dari pembantu setia ibu kalau ibu meninggal saat sedang sujud waktu sholat shubuh.
Tanpa disadari air matapun kembali mengalir dari mata mas bani, setelah menyeka air matanya dan menarik napas panjang, mas bani melanjutkan ceritanya, dan kalian tau, 2 hari setelah kematian ibu, datang seseorang pegawai dari sebuah biro wisata, dia bilang kalau 3 hari lalu berarti sehari sebelum ibuku meninggal beliau datang memesan paket wisata ke Bandung 3 hari untukku dan istriku, dan dia pun menitipkan surat kepadaku, kemudian mas bani menyerahkan surat dari ibunya itu kepadaku untuk kubaca, saya pun membacanya dengan bersuara.

“Bani anakku, sungguh ibu bahagia sekali saat kamu mengajak ibu jalan-jalan tahun lalu, tiada kebahagiaan yang terbaik buat ibu kecuali ibu bisa menikmati hari-hari bergembira bersama kamu, juga bersama istri dan anakmu, anak ku, tahukah kamu, ibu sangat bangga terhadap kamu, tidak sia-sia ibu membesarkan kamu, ternyata kamu bisa menjadi orang yang bemanfaat buat banyak orang, setiap sehabis kamu telpon dan kamu cerita petualangan kamu keliling dunia membantu banyak orang, ibu selalu menceritakan kembali cerita itu dengan bangga kepada para tetangga dan ibu-ibu pengajian, dan tau kah kamu mereka begitu senang mendengarnya dan begitu iri sama ibu,apalagi saat kamu mengajak ibu berlibur,itulah hari yang paling membahagiakan buat ibu.

Ibu senang kamu mengirimi uang tiap bulan pada ibu, itu menunjukkan betapa kamu adalah anak yang tau balas budi dan berbakti pada ibumu, tapi bukan lah materi yang ibu inginkan, ibu hanya ingin melihatmu bahagia, makanya kenapa ibu tak pernah mau sengaja menghubungimu terlebih dahulu serindu apapun ibu kepadamu,karena ibu takut mengganggumu,dan saat kamu menghubungi ibu itulah saat yang paling ibu tunggu walaupun hanya sebulan sekali,melihat kamu bahagia dan bisa menceritakan dirimu dengan sedikit kebanggaan itu sudah sangat cukup buat ibu.

Uang setiap bulan kamu kirimkan tidak sepeserpun ibu gunakan,karena uang pensiun ibu pun masih cukup untuk menghidupi ibu, uang itu sengaja ibu kumpulkan dan ibu belikan sawah serta ibu buatkan rumah penggilingan padi, bukan apa-apa bila suatu saat nanti kamu sudah tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanmu yang sekarang kamu tidak menganggur dan tidak kekurangan biaya untuk istri dan anak-anakmu, sekarang sawah dan rumah penggilingan padi itu di urus sama anak nya mbok iyem pembantu setia kita.

Anakku, ibu menunggu-nunggu saat kamu mengajak ibu kembali jalan-jalan dan berlibur bersama seperti yang kamu janjikan, namun ibu sungguh tau kalau ibu tak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi karena ibu tau kalau basok Allah akan menjemput ibu. Dan saat kamu bilang saat itu ingin mengajak ibu  berlibur lagi, ibu sudah berjanji pada diri ibu sendiri kalau nanti biar ibu yang menanggung biayanya, biar ibu merasakan lagi walaupun hanya sekali ibu memberi nafkah dan masih bisa berguna untuk anakku, maka dari itu ibu belikan paket liburan ini untukmu bersama istrimu sebagai pengganti ibu.

Semoga Allah selalu menjaga dirimu dan keluargamu, serta selalu melimpahkan kasih sayang –Nya untukmu dan keluargamu.”

Saya sungguh tak kuasa menahan air mata jatuh mengalir basahi wajah ini, bahkan si pandir orang yang super slengean itu pun menangis sesegukan. Saya sadar selama ini saya salah besar, berpikir bahwa orang tua saya membutuhkan balas budi, dan saya selalu berpikir ingin membahagiakan mereka dengan materi untuk membayar atas semua biaya yang telah mereka keluarkan buat saya, padahal sampai kapanpun saya tak akan pernah mampu membalasnya. Dan saya akhirnya sadar bila ternyata bukan materi yang orang tua butuhkan, tetapi melihat anaknya bahagia, mungkin hanya sedikit berharap suatu saat bisa membanggakan anaknya pada saudara, tetangga dan teman-temannya.
Saya teringat sebuah sya’ir tentang ibu berikut ini :

BALAS BUDI UNTUK IBU

Ketika usiamu 1 tahun, ia menyuapi dan memandikanmu
Kau membalasnya dengan menangis sepanjang malam

Ketika usiamu 2 tahun, ia mengajarimu melangahkan kaki
Kau membalasnya dengan lari menjauh kala dia memanggilmu

Ketika usiamu 3 tahun, ia menyiapkan sarapanmu dengan segala cinta kasih
Kau membaasnya dengan membanting piring di lantai

Ketika usiamu 4 tahun, ia memberimu seperangkat krayon
Kau membalasnya dengan mencorat-coret meja makan

Ketika usiamu 5 tahun, ia mengenakanmu pakaian untuk berlibur
Kau membalasnya dengan bermain-main di onggokan lumpur

Ketika usiamu 6 tahun, ia mengantarkanmu ke sekolah
Kau membalasnya dengan berteriak : “AKU NGGAK MAU SEKOLAH!”

Ketika usiamu 7 tahun, ia menghadiahimu bola sepak
Kau membalasnya dengan melemparkannya ke jendela tetangga sebelah

Ketika usiamu 8 tahun, ia memberimu es krim
Kau membalasnya dengan menciprat-cipratkannya di sekujur badanmu

Ketika usiamu 9 tahun, ia memanggilkanmu guru les piano
Kau membalasnya dengan bermalas-malasan untuk berlatih

Ketika usiamu 10 tahun, ia mengantarmu sepanjang hari, Dari main bola hingga senam, dari satu pesta ulang tahun ke pesta ulang tahun lainnya
Kau membalasnya dengan melompat dari mobil dengan secepat kilat tanpa menengok lagi

Ketika usiamu 11 tahun, ia membawamu dan teman-temanmu nonton film
Kau membalasnya dengan memintanya duduk di barisan lain

Ketika usiamu 12 tahun, ia menegurmu untuk tidak menonton acara TV tertentu
Kau membalasnya dengan menunggunya hingga ia bepergian

Ketika usiamu 13 tahun, ia memintamu memotong rambut baru
Kau membalasnya dengan mengatakan bahwa ia tiadak punya selera

Ketika usiamu 14 tahun, ia membayarkanmu ongkos untuk 1 bulan berlibur
Kau membalasnya dengan tak sekalipun mengiriminya kabar

Ketika usiamu 15 tahun, ia pulang bekerja, dan mengharap mendapatkan pelukanmu
Kau membalasnya dengan mengunci kamar tidurmu
Ketika usiamu 16 tahun, ia mengajarimu mengendarai mobil
Kau membalasnya dengan mencuri-curi tiap kesempatan

Ketika usiamu 17 tahun, ia mengharapkan telepon penting
Kau membalasnya dengan menggunakan telepon sepanjang malam

Ketika usiamu 18 tahun, ia menangis di hari kelulusan sekolahmu
Kau membalasnya dengan pergi berpesta sampai pagi

Ketika usiamu 19 tahun, ia membayarkan uang SPP perguruan tinggimu, dan mengantarmu membawakan tas ke kampus.
Kau membalasnya dengan mengucapkan selamat tinggal di pintu gerbang asrama agar tidak merasa malu pada teman-teman

Ketika usiamu 20 tahun, ia bertanya apakah kamu telah menaksir seseorang
Kau membalasnya dengan mengatakan “itu bukan urusanmu.”

Ketika usiamu 21 tahun, ia mengusulkan satu pekerjaan untuk karir masa depanmu.
Kau membalasnya dengan mengatakan “aku tak ingin seperti kamu.”

Ketika usiamu 22 tahun, ia memelukmu di hariwisudamu
Kau membalasnya dengan meminta ditraktir liburan ke Eropa

Ketika usiamu 23 tahun, ia menghadiahimu furnitur untuk apartemen pertamamu
Kau membalasnya dengan menyebut furnitur itu kepada teman-temanmu sebagai barang rongsokan

Ketika usiamu 24 tahun, ia menjumpai tunanganmu dan menanyakan rencana masa depanmu
Kau membalasnya dengan mengatakan “Uuuuhhh, Ibuuu...!”

Ketika usiamu 25 tahun, ia membantu membiayai pesta perkawinanmu, dan ia menangis haru, dan ia mengatakan betapa ia mencintaimu.
Kau membalasnya dengan pindah kota menjauhinya

Ketika usiamu 30 tahun, ia menelpon dan memberimu nasihat tentang bayimu.
Kau membalasnya dengan mengguruinya “Semua kini sudah berbeda.”

Ketika usiamu 40 tahun, ia menelpon dan mengingatkan hari ulang tahun familimu
Kau membalasnya dengan mengatakan “Ahhh, betapa sibuknya aku sekarang”

Ketika usiamu 50 tahun, ia sakit-sakitan dan membutuhkanmu untuk menjagainya
Kau membalasnya dengan membacakan kisah betapa merepotkannya orang tua bagi anak-anaknya

Sampai suatu hari ia pergi untuk selamanya. Dan segala yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, bagai halilintar menyambar JANTUNGMU.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali- kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’: 23-24)

“Duhai tuhan ampunilah segala dosa ibu dan bapak ku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku dari sejak aku kecil, dan jadikanlah aku seorang anak yang berbakti dan tau berterimakasih”
Pertapaan Aster 81
Jum’at Dini Hari
30 November 2012

Kamis, 22 November 2012

Resep Anti GALAU


Sering banget kita denger ataupun baca omongan,status atau pun curhatan orang-orang tentang perasaannya yang sedang dilanda galau, terutama dikalangan kawula muda. Galau itu sebuah kondisi dimana perasaan dan fikiran yang gak jelas, cenderung sedih, bad mood, marah, kecewa, emosi dan perasaan-perasaan negatif lainnya, intinya galau itu adalah sebuah kondisi dimana fikiran dan perasaan kita gak ngerasa bahagia, faktor penyebabnya bisa apapun, sakit hati dan kekecewaan, putus cinta, putus asa karena kegagalan, harapan yang tidak terealisasi,keinginan yang tidak terpenuhi dan segala realita yag tidak sesuai dengan harapan,keinginan dan ego diri. Sesungguhnya perasaan galau itu disebabkan oleh ego dan fikiran negatif kita akan sebuah kejadian yang kita alami, fikiran negatif itu timbul saat kita melihat apa yang kita alami hanya dari sisi yang negatif nya saja, sehingga membuat kita tidak percaya diri, pesimis, emosi, kalut, marah, stress bahkan sampe frustasi. 

Perasaan galau itu muncul saat kita hilang keyakinan, saat kita gak punya tujuan yang jelas, saat fikiran gak punya fokus yang jelas dan saat kita berfikir negatif, disadari atau tidak sebenernya galau itu adalah bentuk lain dari keraguan bahkan ketidak yakinan kita pada Tuhan, saat sedang galau secara tidak langsung kita lagi berdo'a yang jelek-jelek buat kehidupan kita.Jadi kalo kamu mau selalu bahagia dan kalo kamu gak pengen menderita jangan biarkan galau merasukimu, dan jauhi segala hal yang bisa bikin kamu galau. Ada beberapa tips yang bisa dilakuin buat menghalau galau, diantaranya : 

  1. Hindari lagu/film/tayangan mellow/horor/kriminal,kecelakaan dan segala obrolan buruk, tidak bermanfaat dan tidak menyenangkan ataupun bacaan yang tidak bermanfaat dan menyenangkan pula seperti berita gosip atau status galau
  2. Hindari ngelamun, cari kesibukan, buat pikiran kita selalu fokus dan positif serta memiliki tujuan yang jelas
  3. Dan lihat segala sesuatu itu bagaimana adanya yang kita lihat, bukan bagaimana seharusnya yang kita suka
Yang pasti orang galau bikin risau, yang gak galau bikin silau, yang galau Nggak Gaul, yang Gaul Nggak Galau, jadi Ayo Para Generasi Muda Indonesia mulai sekarang kita halau tuh galau, pokoknya siapapun orangnya, apapun profesinya dan bagaimanapun kedudukannya SAY NO TO GALAU.


-"Yang Gaul Gak Galau - Yang Gak Galau Bikin Silau"-

Salam Bahagia
Pertapaan aster 81
23 November 2012

SURAT UNTUK SAHABAT



Sahabatku telah kubaca surat cintamu untuk SANG Kekasih...telah kutangkap betapa besar kerinduanmu akan perjumpaan dengan-Nya, dan telah kurasakan betapa besar kegundahan hatimu atas ketakutan mu akan cinta yang tak berbalas dari-Nya... Sahabatku aku jadi teringat sebuah syair cinta Jalaluddin Rumi untuk Sang Kekasih : 

"Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan
Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta
Setiap orang yang jauh dari sumbernya
Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula."

Sahabatku...Allah adalah Sang Maha Daya cinta...Cintanya Dia curahkan pada semua makhlukNya, bahkan sang durjana sekalipun tak pernah lepas dari cinta dan kasih sayangNya...
Sahabatku...Allah adalah Sang Maha Daya Cinta...bila kau memang sungguh mencintai-Nya maka jangan takut cintamu tak berbalas karena Dia tidak akan menyia-nyiakan cinta para kekasihNya...sahabatku...setiap pencinta pasti merindukan partemuan dan kebersamaan yang abadi dengan kekasihnya...Allah adalah Sang Maha Daya cinta...Dia tidak akan pernah meninggalkan kekasih-Nya...Dia akan selalu ada dalam setiap helaan nafas, dan segala aktivitas kekasihNya... 

Sahabatku...bila engkau memang sungguh mencintai-Nya, merindukan pertemuan dengan-Nya dan ingin selalu bersama dengan-Nya...maka pastilah engkau dapat merasakan betapa cinta yang dicurahkan-Nya teramat sangat jauh lebih besar dan lebih indah dari yang kita miliki...engkaupun akan dapat melihat wajah Sang kekasih dalam setiap wujud...dan engkaupun akan senantisa dapat merasakan kehadiran-Nya dalam setiap helaan nafas kita serta dalam setiap aktivitas hati dan jasad kita...karena sesungguhnya Allah bersemayam di dalam kalbu kita...jadi tidak perlu kita menunggu sang maut menjemput bila kita ingin bertemu Sang Kekasih...tetapi ketika kita bisa menafikan segala Makhluk didalam hati dan diri kita dan hanya memunculkan Sang Kekasih...maka pada saat itulah engkau dapat melihat dan merasakanNya...Laa Ilaaha Illaa Allaah...

Cukuplah bagiku Allah...Tiada Tuhan (Sang Kekasih) selain Dia...kepada-Nya lah aku berserah diri...tak ada daya maupun kekuatanku kecuali bersama-Nya

Salam
Pertapaan Pangestu Imani
2 Juli 2009

Rabu, 21 November 2012

JALAN SURGA




Sudah 2 minggu ini saya tak bertemu dengan si pandir, lalu tiba-tiba dia muncul datang ke rumahku, seperti biasa dia memang seringkali tiba-tiba menghilang ditelan bumi lalu tiba-tiba muncul kembali secara tak terduga, tapi justru inilah bagian terbaiknya, karena setiap kali dia tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba muncul kembali saat itulah saya bakal mendapat ilmu dan pencerahan baru darinya.

Hei shob dari mana aja ente 2 minggu ini gak keliatan? Sapaku, si pandir menjawab, biasa shob saya sibuk menikmati hidup jawabnya dengan ringan dan dengan gayanya yang pecicilan. Oh saya kira ente lagi sibuk nyari dunia shob, demi mendapat jawaban saya itu tawa si pandir tiba-tiba pecah terbahak-bahak, lalu dia berkata shob-shob pantesan hidup ente gak pernah bahagia, lawong ente tuh kayak orang yang kalut ngobrak-ngabrik isi rumah nyari kacamata yang gak ketemu-ketemu karena sebenernya kacamatanya lagi ente pake, kemudian pecah lagi tawanya sambil terpingkal-pingkal. Loh kok, maksudnya?! Tanyaku sambil masang wajah bingung.

Si pandir lalu menghentikan tawanya lalu dia bertutur, shob ane mau cerita nih sama ente, suatu saat ada seekor ikan kecil yang muncul kepermukaan laut,saat itu dia mendapati sekelompok pelaut yang sedang menceritakan kisah pengalaman mereka mengarungi lautan dan menceritakan tentang dahsyatnya keindahan lautan, akhirnya sang ikan kecil menjadi sangat penasaran dan berhasrat mencari yang namanya lautan,akhirnya dia arungi seluruh samudera dan seluruh lautan yang ada di muka bumi ini untuk menemukan yang namanya lautan, dan dia bertanya pada banyak ikan yang ditemuinya dimana letaknya lautan, namun tak ada satupun yang tau jawabannya, hingga masa tua di ujung usianya dia tak jua menemukan dimana  itu lautan, dan dia pun akhirnya mati dalam keadaan berputus asa. Nah kira-kira menurut ente kenapa ikan itu gak nemuin yang namanya lautan? Tanya si pandir padaku.

Mendengar cerita dan pertanyaan si pandir itu giliran saya yang tertawa terpingkal-pingkal, bodoh sekali tuh ikan dan bodoh sekali pertanyaanmu, ya iyalah ikan itu gak akan pernah nemu yang namanya lautan, lawong apa yang dia lihat, apa yang dia hirup, apa yang dia sentuh, tempat dia tinggal, tempat dia hidup itulah lautan. mendengar jawabanku si pandir tersenyum senang, nah itu maksud saya shob, selama ini ente habiskan waktu, energy dan kehidupan ente karena kesibukan ente mencari dunia buat ente nikmati, padahal apa yang ente injek, apa yang ente liat, apa yang ente denger, apa yang ente hiru dan apa yang ente rasain itu semuanya adalah dunia, jadi yah mau ente cari sampe kapanpun yah ente gak bakalan nemu dan gak bakalan ngerasain bahagianya menikmati kehidupan dunia. Persis kaya ente ngobrak-ngabrik isi rumah nyari kacamata yang sebenernya lagi ente pake, nah jadi apa bedanya ikan bodoh itu sama ente shob? Kembali tawa si pandir membahana.

Saya pun terdiam malu demi menyadari kebodohan saya selama ini, jadi menurut ente bahagia itu apa dan gimana caranya biar bisa bahagia apa yang harus saya lakuin shob? tanyaku pada si pandir.
Dia balik bertanya padaku, shob tau kan rasanya manis? Wah bingung shob gimana saya jelasinnya, manis yah manis, kayak rasa gula, jawabku, nah jadi kira-kira menurut ente apa ente tau dulu gula itu manis baru nyoba nikmatin gulanya atau nyoba nikmatin gulanya baru ente tau kalau gula itu manis? Tanya si pandir lagi padaku, iya nyoba nikmatin dulu gulanya barulah saya tau kalau gula itu rasanya manis, dan saya tau rasa manis itu gimana.

Nah itulah rasa shob, rasa itu gak bakalan bisa rasio ente jelasin sama rangkaian kata-kata, dan rasa itu baru akan ente tau kalau ente udah nyoba shob, dan bahagia itu adalah rasa, ente gak akan bisa jelasin gimana bahagia kalau ente belum pernah menikmatinya, dan bahagia itu adalah tentang menikmati dan mensyukuri apa yang ada bukan yang belum ada, sekarang coba ente Tanya sama diri ente sendiri, selama ini kebahagiaan ente itu ditentukan oleh mimpi ente dan belum ente dapetin kemudian ente berusaha mendapatkan mimpi ente itu atau ditentuin oleh seberapa banyak yang ente punya sekarang dan ente bisa bener-bener menikmati dan mensyukurinya?

Bagaikan dipukul oleh godam besar kesadaranku mendengar serangkaian cerita, pertanyaan dan jawaban si pandir itu, ternyata saya salah selama ini, karena selama ini saya mengukur kebahagiaan itu dengan segala sesuatu yang belum saya punya dan saya mimpikan, lalu saya sibuk mengejarnya hingga lupa menikmati apa yang saya punya, padahal bahagia itu adalah tentang bagaimana menikmati apa yang ada.

Surga itu adalah kebahagiaan shob, jadi jalan surga itu adalah jalan kebahagiaan, dan salah satu jalan surga itu adalah bersyukur. Nah Jadi kira-kira pelajaran apa yang bisa ente ambil dari semua cerita barusan? Tanya si pandir padaku sambil kemudian pergi meninggalkanku yang sedang tertegun dan terkesima mendengar cerita barusan,dan sayapun langsung tersadar mendapat pertanyaan dari si pandir itu, hmmm sungguh pelajaran yang luar biasa berharga yang membuat saya seperti baru terbangun dari tidur dan mimpi panjangku.

“Dan Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Pertapaan Aster 81 
1 Syuro 1433 Hijriyah
Bandung, 15 November 2012

TUHAN DAN PENGAMEN



Hari itu rombongan pengamen spesialis lagu-lagu sunda langgananku melewati rumahku,seperti biasa bila kebetulan saya sedang luang pasti saya sengaja meminta beberapa lagu untuk dinyanyikan, bisa sampai 2 jam non stop, tak jarang saya pun berjoget jaipongan bila tiba-tiba hasrat iseng saya muncul, selama pengamen itu bernyanyi saya jamu dia layaknya sebagai seorang tamu, saya sediakan minuman dan makanan, setelah puas baru saya memberikan upah saweran yang cukup banyak, bahkan mungkin terlalu banyak untuk ukuran upah seorang pengamen biasanya, sebagai pertanda saya begitu puas dan memberikan penghargaan atas performance mereka, juga bahwa saya mempersilakan rombongan pengamen itu untuk meningalkan rumah.
Tak lama berselang pengamen lain dengan dandanan yang seronok,gayanya yang kurang sopan dan nyanyiannya yang tak enak didengar telinga lewat dan bernyanyi, tanpa menunggu waktu lama saya pun langsung memberikan uang receh, karena saya ingin pengamen itu menghentikan nyanyiannya dan segera pergi dari rumah saya. Si Pandir tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan saya itu. Lalu saya pun dengan terheran-heran bertanya pada si pandir, gila kau, kenapa tiba-tiba kau tertawa terpingkal-pingkal seperti itu?!

Mendapat pertanyaan seperti itu si pandir lalu menghentikan tawanya, dia berkata, shob ente ingat pertanyaan ente tadi sebelum para pengamen itu datang? Tentang do’a ente yang ente panjatkan bertahun-tahun sama Tuhan belum juga dikabul-kabulkan,padahal ente meminta setiap saat, dengan bahasa yang begitu indah,dengan suara yang begitu merdu, bahkan ente hiasi do’a-do’a itu dengan berbagai persembahan ibadah terbaik dan amal terbaik, lalu ente tiba-tiba merasa kecewa dan mulai berputus asa saat tiba-tiba ente lihat seorang pendosa yang do’a-do’anya begitu cepat dikabul walaupun dengan cara-cara yang tidak baik dan menghalalkan segala cara.

Shob waktu ente ketemu pengamen yang baik busananya,sopan perilakunya,merdu suaranya ente terus meminta pengamen itu terus bernyanyi karena ente merasa senang dan masih ingin menikmati penampilannya,dan ente pun rela memberikan uang yang cukup besar, bahkan sangat besar untuk upah yang biasa diterima oleh pengamen biasanya sebab ente merasa sangat puas, bahkan diluar upahnya ente jamu dia layaknya seorang tamu kehormatan, tapi waktu ente mendapatkan pengamen yang buruk penampilan dan perangainya,buru juga suara dan nyanyiannya ente cepat-cepat memberi dia uang agar dia cepat pergi dari hadapan ente,itupun uang recehan yang ente kasih.

Begitu juga Tuhan shob, saat Tuhan merasa senang dengan do’a-do’a hamba-Nya yang dilantunkan dengan suara yang merdu dan bahasa indah, serta dihiasi dengan berbagai amal dan ibadah terbaik, Tuhan sengaja meminta malaikat untuk menunda do’a itu dikabulkan, karena Dia masih ingin menikmati bujuk rayu hambanya yang begitu merdu dan syahdu, dia masih ingin mendapatkan isak tangis dan pengakuan dari hamba-Nya, dan atas apa yang kita berikan dan lakukan untuk Tuhan itu, Tuhan telah mempersiapkan bayaran berupa pengabulan do’a dengan balasan yang terbaik,bahkan terlalu banyak jauh melebihi apa yang kita minta, dan selama masa Tuhan menunda pengabulan do’a itu Tuhan menjamu kita dengan berbagai anugerah yang tidak kita minta, coba ingat-ingat berapa banyak anugerah terbaik yang ente dapat dan orang lain tidak mendapatkannya padahal ente tiakpernah memintanya. Tapi saat seorang hamba pendosa meminta dengan tanpa etika dan berdo’a dengan cara yang memaksa, maka Tuhan segera berkata pada malaikat-Nya cepat kamu berikan apa yang dia minta seadanya Aku tidak ingin berlama-lama mendengar suara dan do’a-do’anya, aku tidak ingin melihatnya berlama-lama menyapa-Ku. Jadi bukankah seharusnya justru semakin lama do’amu terkabul malah ente harusnya makin bersyukur, karena berarti Tuhan semakin senang dengan do’a-do’amu dan penghambaanmu selama tentunya do’a dan penghambaan ente semakin baik?!

Aku pun tertegun, membisu terdiam seribu bahasa, aku malu telah berburuk sangka kapada-Nya, malu karena telah mendustakan dan tidak mensyukuri jamuan-Nya, rasa malu yang begitu besar yang membuatku semakin merintih dan semakin berhasrat memberikan bujuk rayu dan penghambaan terbaik kepada-Nya.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran" ( 2:186).

Pertapaan Aster 81
Selasa Pagi bersama secangkir kopi
13 November 2012

JADILAH PECUNDANG




Ditemani secangkir cokelat panas, kunikmati sore hari yang indah dengan langit yang begitu cerah, semilir angin sore membuat suasana semakin menambah pekat dan lengkap kenikmatan hidup yang tak mungkin kusia-siakan ini, saat yang  teringat kejadian kamarin siang dalam perjalanan pulang menuju rumah sehabis mengisi sebuah seminar pembekalan kewirausahaan bagi para calon wisudawan dan para mahasiswa yang ingin berwirausaha, persis di depan mataku sebuah sepeda motor tiba-tiba terjungkal entah apa penyebabnya,nampaknya dia mengerem secara mendadak.

Teringat kejadian beberapa bulan sebelumnya di lokasi yang sama sebuah mobil yg terlihat ugal-ugalan tiba-tiba kehilangan kendali dan menyebabkan terjadinya tabrakan beruntun, yah memang kecelakaan adalah sebuah hal yang biasa kita temukan dijalanan, namun ada sebuah pelajaran penting tentang kesombongan dan kehati-hati an.

 Dulu saat kita belajar melakukan sesuatu, karena merasa diri kita belum bisa dan belum mampu maka kita pun cenderung melakukan hal itu dengan sangat hati-hati, kadangkala begitu besar ketakutan kita untuk berbuat salah, tapi setelah kita bisa melakukannya dan semakin merasa mahir kita melakukannya, tanpa kita sadari karena merasa diri sudah mampu kita seringkali menjadi lebih sembrono dan ceroboh, kecerobohan karena merasa sudah mampu dan mahir itulah yang membuat celaka.
Perasaan tau, mampu dan ahli adalah hal yang membuat seseorang berhenti berkembang karena kesombongannya,cenderung berhenti belajar,berhenti mencari tahu dan mengasah keahlian,tak jarang membuat kita cenderung lebih baik dan lebih hebat dari orang lain,malah mungkin menyepelekan dan mengejek orang yang belum tahu dan belum mampu.

Seringkali kita malu saat kita merasa bodoh, tak mampu dan pandai dalam suatu hal,membuat kita menjadi penakut, minder dan rendah diri, tapi justru rasa bodoh dan penakut itu justeru seringkali menyelamatkan kita dan membuat kita selalu berhati-hati, bukankah iblis di usir Tuhan dari surga dan menjadi ahli neraka karena dirinya merasa lebih baik dari adam? Bukankah Iblis kehilangan kemuliaannya sebagai komando para malaikat dan dihinakan menjadi pemilik kedudukan terendah karena dirinya kesombongannya?

Jangan pernah berkecil hati karena kita bodoh dan kurang mampu, jangan takut bila kita dihina dan dijelek-jelekan, malah bersyukurlah, bukankah dengan di jelek-jelekan dan dihina kita menjadi tau apa kekurangan dan keburukan kita? bukan kah dengan mengetahui kebodohan dan kekurang mampuan kita membuat kta jadi tau apa yang harus kita latih dan kita pelajari, serta kita menjadi tau apa yang harus kita perbaiki? Sehingga kita bisa menyibukkan diri kita untuk terus memperbaiki diri dan memperbesar kualitas dan kapasitas diri kita? Jangan juga gundah dicap sebagai pecundang karena rasa takut yang kita miliki, bukankah rasa takutlah yang membuat kita justru menjadi pribadi yang taat pada hukum dan aturan? Bukankah rasa takutlah yang justru membuat kita terhindar dari kesombongan, hingga kita mau berhati-hati dan bukankah rasa takut itu yang justru membuat kita tetap berTuhan.

Bersyukurlah bila ternyata kita adalah seorang pecundang, Jadilah pecundang yang selalu merasa bodoh, yang selalu merasa lemah,  orang yang tetap memiliki rasa takut, dan jadilah pecundang yang mampu mengelola semua perasaan itu hingga menjadi kendaraan yang mengantarkan kita menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri dan semakin dekat pada Tuhan.

Penghujung senja hari jum’at
9 November 2012
Pertapaan Aster 81

Antara kita,iblis dan Tuhan




Tiba2 si pandir mendatangiku dan memberiku sebuah pertanyaan...

Siapakah mahluk paling hina didunia ini,siapakah mahluk paling mulia di dunia ini dan siapakah Sang Maha Agung?

kujawab sambil tertawa,sungguh peryanyaan konyol,bercanda kmu toh...
tentu saja iblis beserta para anteknyalah mahluk yang palng hina dan dihinakan karena kesombongannya dan perbuatannya menggoda manusia,dan kitalah mahluk yang paling muliayang Allah muliakan diberi kedudukan sebagai khalifah di muka bumi,dan Allah lah satu2 nya Yang Maha Agung,Maha Bear dan Maha segalanya.
Si pandir manggut lalu bertutur :

Setiap iblis akan melakukan perannya sebagai penyesat jalan manusia iblis selalu meminta izin Tuhan,dalam setiap helaan nafasnya iblis selalu menyertakan Tuhan,dalam setiap gerak langkahnya iblis selalu meminta izin pada Tuhan,padahal dia diberikan tempat yang paling hina oleh Tuhan,

namun kita yang diberikan posisi paling tinggi,kesempurnaan akal,nyaris jarang sertakan Tuhan..

Sehari lebih dari 100 kali kita mengucapkan kalimah takbir (Allah Maha besar),seharusnya itu adalah pembuktian atas keyakinan kita bahwa Tuhan itu lebih besar dari apapun,lebih besar dari masalah kita,lebih besar dari jabatan kita,lebih besar dari ketakutan kita,lebih besar dari ego dan kehendak kita,namun tanpa kita sadari justru kita merasa diri lebih besar dari Tuhan,masalah kita dianggap lebih besar dari Tuhan terbukti dengan segala keluh kesah,hujatan,cacian,tangisan dan keputus asaan kala sesuatu yang tidak sesuai dengan ego dan hasrat kita terjadi.

kemalasan kita jauh lebih besar daripada Tuhan,terbukti seringkali kita melalaikan amanah dan panggilan Tuhan dengan membuat berbagai alasan pembenaran.

harapan kita pada sesama jauh lebih besar daripada harapan kita pd-Nya,rasa terimakasih kita pada orang yang menyenangkan kita lebih besar dari pada rasa syukur kita kepadanya atas samudera kenikmatan yang senantiasa dicurahkan-Nya pd kita.

dan lebih banyak lagi sikap kita yang menjadikan Tuhan dan segala kuasa-Nya lebih kecil dari diri dan kehidupan kita...

wallaahu a'lam, ini pengakuan diri saya manusia paling sombong yang merasa lebih besar dari Tuhan, manusia paling munafik yang seringkali ucapan tak sesuai dengan kenyataan...

aku tau dosaku lebih berat daripada 7 petala langit dan bumi, namun kuyakin kasih sayang dan ampunan-Mu bagi hamba2 yang ingin kembali pulang kepada-Mu membuat semua dosaku bagaikan setitis air di samudra tanpa tepi.

Kamis terakhir september 2012
Pondok Cemara 317

ZOMBIE




Teringat kata-kata salah seorang guru, bila kita merasa biasa-biasa saja saat melakukan maksiat pertanda hati kita telah mati. Memori ini membuat saya sangat merinding, bagaikan ada godam berton-ton yang memukul kepala dan kesadaran saya, seolah-olah nyawa ini akan tercerabut dari jasadnya, ternyata mungkin hati saya telah lama mati.
Kemunculan memori tentang pesan sang guru itu memaksa saya mencoba kembali memutar rekaman-rekaman memori kehidupan saya yang lain, lebih khususnya memori tentang segala perilaku dan perbuatan yang pernah dan selalu saya lakukan, dalam istilah “agama saya” biasa disebut dengan “muhasabah”. Bagaimana tidak saya merasa bergetar, saya dapati kenyataan bahwa begitu banyak ternyata dosa yang saya lakukan tanpa ada perasaan berdosa, atau saya merasa biasa-biasa saja, bahkan saya menganggapnya sebagai hal yang wajar atau manusiawi untuk dilakukan.
Contoh kecil, dalam sehari entah berapa kali saya dengan lancangnya meminjam jubah Tuhan berupa kesombongan, saat saya menganggap diri saya ini baik, saya menganggap orang lain buruk, saya menggunjingkan perilaku orang lain yang saya anggap buruk, atau bila diingat-ingat entah berapa banyak kebohongan yang sudah saya keluarkan dengan lisan ini, dengan berbagai alasan pembenaran saya mengucapkan berbagai kebohongan dengan begitu ringannya, padahal saya sangat sadar saya itu bohong, dan saya sangat tau bohong itu adalah dosa. Melalaikan ibadah pun dengan begitu entengnya dilakukan.
Dan memang nampaknya saat ini tanpa disadari banyak orang yang hidup layaknya zombie, kita lihat betapa budaya gossip sekarang menjadi makanan sehari-hari, banyak wanita muslim yang dengan biasa saja bahkan bangga mempertontonkan auratnya, orang-orang melakukan korupsi sudah dengan terang-terangan, muda-mudi yang dengan santainya dan tanpa risih sedikitpun mempertontonkan kemesraan dengan kekasihnya yang jelas-jelas belum menjadi muhrimnya, ah tapi tak perlulah saya melihat orang lain dulu, diri saya pun sehari-hari masih terus melakukan maksiat dengan begitu santainya. Iri dengki, kesombongan, kebohongan, keserakahan tanpa saya sadari telah saya pelihara sehingga tumbuh dengan demikian besarnya.
Bila dihisab nanti dihari dimana semua amal dipertanggung jawabkan, dan dimana seluruh tubuh ini diminta persaksian, nampaknya saya akan termasuk kedalam golongan kiri, saya tak mampu menjaga amanah jasad yang Tuhan titipkan pada saya, mata ini setiap hari saya biarkan menikmati pemandangan yang seharusnya bukan hak saya untuk memandangnya, telinga ini saya jejali dengan hal-hal yang bukan seharusnya saya dengar, lisan ini tiada hentinya mengeluarkan kata-kata kebohongan, kedengkian, kesombongan dan dosa-dosa lainnya. Tangan ini entah berapa banyak dosa yag telah diperbuatnya, kaki ini entah telah berapa banyak dilangkahkan menuju acara-acara bermaksiat ria, darah ini pun nampaknya telah pekat dengan harta haram.
Celakanya saya merasa biasa saja dengan semua itu, ibadahpun kulakukan tak membuat hatiku menjadi lembut malah hatiku semakin keras membatu, tak jarang dengan sengaja kupertontonkan ibadahku hanya untuk dilihat sebagai orang yang taat, bahkan kebanyakan ibadahku kulakukan tanpa rasa lagi didalamnya, tak sedikit ibadahku bukan benar-benar untuk-Nya tetapi justru untuk memaksa Dia memenuhi nafsu duniaku.
Bukankah kematian terburuk adalah matinya jiwa sedangkan raga ini masih hidup? Yah selama ini ternyata saya telah hidup seperti zombie, semoga masih cukup waktuku  untuk kembali menghidupkan hati yang telah mati, semoga Allah Sang Maha Rahiim berkehendak menganugerahkanku husnul khotimah, dan memberikanku kesanggupan untuk kembali menghidupkan hatiku dan menggunakan jasadku sesuai dengan aturan dan kehendak-Nya.

Pertapaan Aster 81
8 Agustus 2012

CINTA LATTE




Malam telah cukup larut, hasrat untuk pulang ke rumah pun saya urungkan sejenak, nampaknya saya harus sedikit mereview, merenungi dan mencoba memaknai perjalanan beberapa hari ini, saya pun memutuskan masuk kembali ke sebuah café yang baru saja saya tinggalkan bersama seorang client terakhir saya, sambil memesan secangkir Hot Capucino, dan menikmati alunan musik jazz yang diputar fikirankupun mulai menerawang, Entah kenapa beberapa hari ini beberapa client yang kuhadapi hampir semuanya tentang kisah percintaan sepasang umat manusia, ada yang bercerita tentang rumah tangganya yang mulai kurang harmonis, ada yang mengeluhkan tentang sikap pasangannya, ada yang bercerita tentang calon kekasihnya yang dilamar orang lain namun dirinya tidak memiliki keberanian untuk mendatangi orang tua kekasihnya dan melamarnya, dan ada juga yang bercerita tentang kekasihnya yang akan menikahi wanita lain yang dipilihkan orangtuanya.

Dari semua cerita diatas semuanya memiliki kesamaan yaitu bercerita tentang orang yang dicintainya, dan dari semua yang menuturkan kisahnya semuanya memiliki alasan yang cocok dengan perasaan mereka sehingga membuat mereka menyukai dan mencintai kekasihnya itu.

Inilah yang terjadi sering dari kita mencintai seseorang karena alasan yang disadari ataupun tidak alasan itu adalah alasan kecocokan dengan harapan dan kesukaan ego diri kita, alasan-alasan itulah yang membuat diri kita menerima atau menjadikan seseorang menjadi pasangan kita, namun celakanya ketika dikemudian hari ternyata alasan kita mencintai dan menyukai itu sudah hilang atau habis maka dengan mudahnya alasan tidak ada lagi kecocokan dengan pasangan menjadi dasar hancurnya mahligai rumah tangga yang sudah dijalani dan dibangun selama bertahun-tahun, serta mengorbankan banyak pihak terutama anak-anak.

Tiba-tiba ingatan saya melayang pada kisah yang saya dapatkan beberapa tahun silam,dan setiap kali membacanya, tidak sedikitpun perasaan mengharu biru di hati ini berkurang, membuat diri ini mendadak menjadi sangat melankolis atau sentimental, hehehe, dibawah ini sebuah kisah tentang keluh kesah seorang isteri yang merasa sudah kehilangan alasan-alasan yang membuatnya dulu mencintai suaminya :

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan Saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Dua tahun dalam masa pernikahan,saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan". Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lsayakan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati.

Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok.". Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ...

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

" Sayang ketika kamu mengetik di komputer lalu program-program di PC-nya kacau dan akhirnya kau menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya dan kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu.

Sayang, kamu juga selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Sayang, kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk menunjukkan jalan kepadamu.

Sayang, kamu selalu sakit dan pegal-pegal pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.

Cinta, ketika kamu sedang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi "aneh". Maka saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.

Cinta, kamu terlalu sering menatap layar kaca TV dan Komputermu serta membaca buku sambil tiduran dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, maka saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Saya tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barangku, dan saya tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagia saya bila kau bahagia."
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Aku peluk dia penuh kebahagiaan, oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.

*******

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, padahal tanpa kita sadari Cinta itu telah terwujud dalam bentuk yang lain walau tidak sesuai dengan wujud yang kita harapkan
Seringkali kali kita menuntut Cinta kepada pasangan kita, namun jarang terfikir oleh kita sejauh mana Cinta yang telah kita berikan padanya. Berikan Cinta Kasih yang tulus kepadanya, kalaupun dia belum membalasnya yakinlah Allah pasti akan membalas dan membisikkan CintaNYA kepadanya untuk diberikan kepada kita.

Di bawah naungan ajaran Agama, kedua pasangan suami istri dituntun untuk menjalani hidup mereka dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain.

Dari setiap masalah rumah tangga yang saya hadapi, bila saya Tanya tentang tujuan hidup dan pernikahan mereka, hampir semuanya mereka tidak memiliki arah tujuan yang jelas, mau dibawa kemana sesungguhnya biduk rumah tangga mereka, hasil akhir apa yang sebenarnya ingin mereka capai dalam menjalankan roda rumah tangga, sehingga mereka tidak memiliki acuan dan arahan yang jelas tentang bagaimana dan seperti apa seharusnya mereka menjalani rumah tangga, dan pada saat terjadi perselisihan dalam rumah tangga mereka bingung karena tidak memiliki arahan kemana mereka harus mengembalikan arah dan menyamakan kembali persepsi.

Saat kamu akan menikah ingat apa tujuan hidupmu dan tujuanmu menikah, apapun yang kamu lakukan maka arahkanlah semuanya kepada tujuan akhirmu, dan kerahkan semua sumberdaya untuk mencapai tujuanmu itu, maka saat kamu akan menikah gak peduli kamu menikahi pasanganmu itu karena ada rasa atau tidak ada rasa, suka atau tidak suka, pake nafsu atau tanpa nafsu, yang paling penting adalah Ijab Qobul, atau akad di awal sebelum menikah tentang tujuan kalian menikah itu apa, kesepakatan, kesamaan tujuan dan kesamaan persepsi adalah modal utama membangun biduk rumah tangga.

Teringat pepatah jawa yang mengatakan “witing tresno jalaran soko kulino : Tumbuhnya cinta karena seringnya bertemu” dengan kamus kebodohan saya, saya memahami pepatah ini bahwa rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya bila dalam perjalanan semakin mampu bekerjasama, bersinergi dan membangun harmoni dalam membina dan menjalani hidup bersama dalam kesenyawaan dan kesatuan dalam segala hal; kesatuan perasaan, kesatuan hati dan dorongan, kesatuan cita-cita dan tujuan akhir hidup dan lain-lain sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan melalui ajaran agama yang diturunkan-Nya kepada kita.

Semoga saja bila nanti saya diberikan amanah keluarga, saya mampu membawa keluarga yang diamanahkan Tuhan itu menuju jalan cahaya, yaitu jalan kebahagiaan yang Tuhan tunjukkan untuk hamba-hamba-Nya, sehingga saya mampu membawa keluarga pulang sebagai perantau yang berhasil yang disambut Tuhan dengan penuh suka cita dan kerinduan serta mendapatkan jamuan terbaik dari cinta-Nya

"Mereka (pasanganmu) itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka." (2:187)

Salam, 
Kota Bunga Utara,
Penghujung Malam 12 Juni 2012