Kamis, 14 Juli 2011

SI PANDIR DI KAMPUNG DUGEM

Sang Pandir adalah seorang musafir yang sedang mencari jawaban atas segala pertanyaan...

Dalam perjalanannya sang pandir singgah di sebuah kampung, yang bernama kampung DUGEM, yang sungguh bila dipandang sepintas tak ada sedikitpun kebaikan di dalamnya...seluruh penduduk disitu tak pernah lepas dari maksiat...terutama bila malam tiba...kampung itu berubah menjadi sebuah pusat keramaian maksiat...minuman keras sudah menjadi menu utama di kampung itu...aurat begitu murahnya dipertontonkan dan diperjualbelikan...setiap tamu yang datang ke kampung itu hanyalah sekedar untuk memuaskan nafsu dan syahwat mereka...

Namun sungguh tak di duga banyak hal yang membuat si pandir sangat takjub dibuatnya...dia bertemu dengan seorang wanita yg merupakan tetua bagi kaum wanita disitu...walaupun dalam kondisi mabuk berat dia masih mampu dengan lancarnya melafalkan hafalan surah Yaa Siin hingga selesai...tak sedikit dari penduduk kampung itu yang ternata tak pernah meninggalkan kewajiban mereka sebagai seorang hamba...tak sedikit pula dari mereka yg rajin menjalankan ibadah2 sunnah...beberapa warga di kampung itu merupakan anak2 dari pemuka agama...bahkan salah satu warga merupakan cucu dari seorang pemuka agama yang cukup dikenal diseantero negeri, yg juga merupakan tokoh pujaan sang pandir...

Dibalik semua cela yang mereka perbuat, Banyak dari mereka adalah seorang ibu yg berjuang menghidupi dan memperjuangkan hidup anak2nya meskipun harus mengorbankan diri dan harga dirinya...ketika tak ada pilihan yang dimiliki, dikala tak seorangpun mau mengulurkan tangan...sedangkan roda kehidupan harus terus berputar sementara bahan bakar tetap harus dibeli...yg akhirnya memaksa mereka mengambil jalan ini...atau tak sedikit dari mereka yg memang sudah terlahir di lingkungan ini, dan tumbuh besar dalam lingkungan yang sama...sehingga pada akhirnya mau tak mau mereka harus menjadi pribadi yg mengikuti adat...padahal bila ditanya dan disuruh memilih...kebanyakan mereka pasti ingin bisa keluar dari lingkungan itu...

Disalah satu malam sang pandir teringat sebuah kisah yang menceritakan tentang kisah sang Iblis, yang konon pada awalnya sang iblis memiliki kedudukan paling terhormat di sisi Tuhan, dimana sang iblis merupakan penghulu para malaikat, namun hanya karena dia tak mau disuruh bersujud kepada Adam karena merasa lebih mulia...padahal dimata Tuhan semua mahluk adalah sama kedudukannya...maka pada saat itu Tuhan menghinakan iblis dan menjadikannya mahluk yang paling rendah kedudukannya...

Sang Pandir jadi berfikir...sesungguhnya...semua manusia adalah sama disisi Tuhan, jadi tak ada hak sedikitpun bagi siapapun untuk menghinakan seseorang, karena apa yang ia perbuat...sebab yang hina bukanlah manusianya tetapi hanyalah perbuatannya semata...padahal sungguh tak seorangpun di dunia ini yang menginginkan dilahirkan dan hidup dalam lembah dosa...tetapi keadaanlah yang memaksa...meskipun pada akhirnya manusia diberi akal untuk dapat merubah jalan hidupnya...dan ketika kitapun menjadi orang yang terjauh dari lembah dosa bahkan menjadi seorang ahli ibadah...sesungguhnya itu adalah karunia Tuhan untuk kita...karena kita tidak diposisikan oleh Tuhan berada dalam posisi mereka...

Jadi ketika kita menghinakan orang lain atas perbuatan seseorang, pada saat itu sesungguhnya kita merasa lebih baik atau mungkin lebih mulia dari orang yang kita hinakan...lalu bila melihat kisah iblis di atas apa bedanya kita dengan Iblis...ketika kita menganggap rendah profesi atau kedudukan sosial se2orang, berarti kita merasa lebih tinggi dari orang itu, padahal tak seorangpun yang mau terlahir dalam kondisi miskin atau rendah kedudukannya... lalu pada saat itu apa bedanya kita dengan Iblis...dan ketika kita membeda2kan perlakuan kita kepada orang-orang yg statusnya di bawah kita atau bawahan kita lebih rendah dari diri kita, orang-orang yang kita anggap setara atau lebih tinggi dari kita...pada saat itu pula apa bedanya kita dengan Iblis...

Selanjutnya sang pandirpun berfikir lagi...sungguh dirinya seharusnya bersyukur karena tidak dilahirkan dalam lingkungan yang memaksanya menjadi ahli maksiat...bahkan dia dilahirkan dilingkungan ahli ibadah...juga tidak diposisikan dalam kondisi yang memaksanya untuk berbuat maksiat...bahkan dirinya menjadi orang yang sedikit mengerti aturan agama, dan bisa beribadahpun sudah merupakan karunia terbesar yang Tuhan anugerahkan untuknya...lalu apakah pantas dia meminta pamrih pada Tuhannya atas ibadah yang ia perbuat, walaupun itu berupa setitik pahala...apalagi sampai berharap syurga...

Demi menyadari kesalahannya selama ini pada saat itu pula sang pandir tersungkur bersujud ke hadapan Tuhan...meraung memohon ampunan atas segala khilaf dan dosanya selama ini...serta melantunkan puji-pujian syukur atas anugerah nikmat yang selama ini ia lalaikan...serta atas nikmat Tuhan yang telah mengajarkannya atas arti hakiki sebuah ke ikhlasan...


Bandung, 04 Agustus 2009

Pertapaan Pangestu Imani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar