Sabtu, 01 Desember 2012

JANGAN PERNAH TANYAKAN PEKERJAAN BAPAKKU




Hari minggu di awal Desember ini saya sedang ingin menikmati berlibur dan bersantai di rumah, ditambah melihat langit yang tampak sedang bermuram durja dan sudah siap menumpahkan tangisnya semakin memperkuat hasratku untuk  untuk tidak bepergian kemana-mana, sambil menikmati secangkir kopi ditemani beberapa kerat roti saya mulai berkutat dengan laptopku, saatnya mencari inspirasi dan berbagi inspirasi. Saya memiliki banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi binaan,dan banyak sekali dari mereka yang memiliki cerita perjalanan hidup yang memberikan pelajaran luar biasa bagi saya, meskipun secara status sosial mereka adalah mahasiswa binaan saya, tapi bagi saya justru mereka adalah para guru kehidupan saya.
Entah kenapa dua hari ini saya teringat terus pada salah satu mahasisiwi binaan saya, Dia adalah salah satu mahasiswi yang termasuk binaan-binaan yang sangat dekat dengan saya. Tempo hari dia sengaja menuliskan kisah nya tentang ayahnya, karena kecintaan dan baktinya pada ayahnya, dan dia ingin berbagi hikmah bahwa bagaimana pengorbanan seorang ayah untuk anak-anaknya yang membuat dia mau melakukan apapun demi kita anaknya. Berikut ini adalah cerita yang ditulisnya:

Setibanya sore, lelaki kekar penuh semangat itu tiba di rumah. Tas yang dijinjingnya, ah biasa dia menyorenkannya pada bahunya berisi uang-uang recehan, dari mulai koin hingga uang kertas baik yang pecahan kecil hingga pecahan besar. Dan pastinya tugasku menghitung uang-uang tersebut bersama wanita yang setia menunggunya dirumah, ah itu ibu. Dengan menggendong adik yang masih kecil sekitaran umur 2 tahun kami selalu menghitung uang bersama. Mungkin karena waktu itu aku masih kecil, aku tak mengerti pekerjaan orangtua ku, yang paling penting aku dapati uang jajan. Mungkin seperti itulah rutinitas kami. Saat aku masuk SD aku ingat ada formulir isian yang harus diisi sepulang sekolah, seingat ku itu untuk biodata di buku Raport. Aku mengisinya bersama mereka, dengan dituntun mengisi form yang kosong satu persatu, ada yang kurang aku mengerti saat mengisi kolom pekerjaan orang tua, dan aku disuruh mengisinya dengan ‘wiraswasta’, itu tentu kosakata baru yang pernah aku dengar. Kemudian aku bertanya pada bapak, apa artinya wiraswasta, beliau hanya menjawab itu berarti bapak mu ini memiliki usaha sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

“Ibu, aku mau masuk sekolah agama seperti teteh itu..”, rengek ku saat duduk dikelas 1 SD. Ibu menjawabnya dengan tenang, “nanti ya nak kalau kamu sudah kelas 2SD ibu masih belum berani kalau kamu harus pergi ke sekolah sendiri”. Tahun berikutnya aku masuk sekolah madrasah. Dengan rutin sepulang sekolah SD aku diantar oleh bapak sekalian pergi kerja, ah betapa senangnya memiliki teman-teman baru disana, ditambah pelajaran-pelajaran baru yang tidak aku dapatkan disekolah SD, seperti Fiqih, Tauhid, Sejarah Kebudayaan Islam, Khot, Mufrodat, Qiroah, dan lainnya. Seiring berjalannya waktu¸ aku lupa saat itu duduk di kelas berapa, yang aku ingat saat itu sedang disampaikan materi tentang riba, contoh yang sederhana dengan bahasa yang sederhana pula disebutkan meminjam uang, dan melebihkannya saat mengembalikannya adalah termasuk riba dan riba adalah sesuatu yang haram, dan yang haram akan membawa ke neraka. Aku langsung teringat pada sosok lelaki pemimin di rumah, setahu aku beliau sering meminjamkan uang pada orang lain dengan tambahan bunga. Ya inilah pekerjaan bapakku. Orang-orang dikampung sering menyebutnya dengan sebutan ‘bank keliling’. Sempat aku bertanya padanya, “Pa, pekerjaan bapak apa yah? Apa itu termasuk riba? Berarti gak halal?”, dengan nada takut karena materi yang didapat disekolah tadi, beliau menyangkal nya dengan berkata “lah ini bukan riba, karena kedua belah pihak ikhlas”. Setelah memikirkan sejenak, ya mungkin benar apa yang dikatakan beliau karena tidak ada pihak yang dizalimi, jawabannya membuat tenang.

Oh iya selain pekerjaan itu, pernah aku merengek pada bapak ingin punya warung, dan atas kesepakatan sekeluarga bersama ibu tentunya akhirnya setuju juga. Bapa membeli tanah di pinggir jalan, kebetulan saat itu ada yang akan menjual tanah. Dibangunlah toko sekaligus rumah yang dijadikan tempat usaha. Karena mungkin susah bila tempat tinggal dan toko terpisah, maka kami memutuskan untuk pindah rumah ke toko tersebut.

Segala puji hanya bagi Allah, Alhamdulillah usaha toko sembako lancar, begitu pula pekerjaan bapa. Kami bisa membeli motor baru, membangun rumah dan merasakan nikmat yang lainnya.

Saat kecil aku agak iri pada tetangga yang lainnya, ayah mereka bekerja pergi di pagi hari dan pulang di sore hari dengan pakaian seragamnya masing-masing. Sedangkan bapak ku pergi kerja sangat santai, pergi siang dan pulang sore, tapi bersyukur karena beliau memiliki waktu yang lebih banyak bersama kami di rumah.

Lama kelamaan usaha toko sembako diperbesar, dengan bantuan pinjaman dana dari bank kami bisa dapat memperbesar toko dengan menjadi grosiran. Seiring bertambahnya umur kebutuhan pun semakin meningkat, seperti biaya pendidikan. Mungkin sekarang aku sudah memasuki SMA yang lumayan membutuhkan biaya yang cukup tinggi karena berhasil masuk sekolah favorit pertama di kota tersebut. SPP per bulan, ditambah iuran dana pembangunan, buku sekolah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bapa mulai merasakan keuangan yang sulit dimana tiap bulan harus menyetorkan uang ke bank dan biaya keperluan lainnya seperti biaya pendidikan. Oh iya, ditambah aku memiliki adik baru lagi saat aku duduk dikelas 2SMP. Semakin berat beban yang ditanggung oleh beliau, tapi beliau percaya bahwasannya rezeki hanya Allah yang mengatur dan kita tinggal berusaha menjemputmnya.

Seiring pendidikan yang semakin tinggi, aku dapati ilmu yang semakin banyak pula. Masih teringat akan rasa penasaran sewaktu masih kecil, apakah pekerjaan bapak halal atau tidak. Lambat laun aku mengerti dan tahu dari beberapa hadist dan ayat dalam Quran memang riba adalah sesuatu yang haram.

Sampai kini aku kuliah semester 7, pengetahuan ku bertambah akan riba. Meminjam uang kepada bank, ya hal tersebut masuk kedalam kategori riba. Setelahnya itu aku memiliki kegundahan saat menyadari biaya sekolah dari kecil hingga sekarang kuliah berkenaan dengan pinjaman uang bank, dan itu adalah riba. Namun kadang berfikir ah kan orang tuaku berjualan juga, itu kan bukan riba. Aku pernah bertanya pada seseorang, seseorang yang bisa dikatakan sebagai guru, guru kehidupan boleh lah disebut seperti itu. Beliau berkata bahwa harta seperti itu adalah harta subhat, dimana tidak ada kejelasan halal/haramnya. Semenjak itulah aku merasakan perasaan tak tentu, kadang tiba-tiba menangis, sadar bahwa dari sewaktu aku kecil aku diberi makan oleh uang riba oleh sosok lelaki itu yang sekarang setia menemani ibu yang sedang sakit. Astagfirullah.
Sekarang apa yang dulu kami miliki satu persatu diambil kembali olehNya. Kadang aku berfikir mungkin ini balasan dariNya. Ya benar mungkin, Allah ingin memperlihatkan sebenarnya harta yang kamu dapatkan yang bersih tanpa riba nya itu seberapa. Ampuni hambamu ini ya Allah astagfirullah.

Dari mulai hidup foya-foya lalu kemudian biaya kuliah, dan sekarang ibu sakit. Wanita yang dulunya tidak pernah sakit parah, terlihat begitu sehat, tiba-tiba terserang penyakit yang menghabiskan uang berpuluh-puluh juta.

Karena bapak sibuk mendampingi ibu di rumah sakit, toko hanya buka saat adik pulang sekolah, dan adik sendiri yang mengelola di rumah. Dia masih sekolah SMA dan sekarang sudah sadar bahwasannya ibu adalah segalanya. Kami merasakan rasanya hampir kehilangan sosok ibu di rumah (semoga yang terbaik diberikan untuk ibu, aamiin).

Mungkin karena dirasa kini aku sudah dewasa dan bisa diminta pendapat untuk pengambilan keputusan. Bapa bertanya “bagaimana kalau rumah yang satu dijual, bapak hanya ingin ibumu sembuh, pergerakan penyakit sangat cepat, kalau saja telat menangani bapak bisa tambah repot kalau ibumu nanti sudah tidak ada, bapak sudah tidak bekerja ‘itu’ lagi, biar nanti bapa cari usaha baru”. Alhamdulillah puji syukur, ini sepotong kalimat yang membuat hati terasa begitu plong, terimakasih ya Allah engkau telah beri jalan baginya untuk kembali padaMu. Semoga kami tetap dalam keberkahanMu. Aamiin

Semoga bisa diambil hikmahnya, semoga dapat memberi pelajaran.

*******

Sungguh cerita yang sangat menyentuh, membacanya membuat mata ini tak mampu membendung air yang meleleh karena haru, dalam ratusan seminar dan training yang saya isi,terutama bila audience nya pelajar dan mahasiswa pasti ketika saya Tanya mimpi mereka pasti selalu saja banyak yang menjawab bahwa mereka ingin kaya dan bisa membahagiakan orang tua mereka, dan selalu ada saja yang menceritakan bagaimana kekecewaan mereka kepada orang tua mereka, apakah itu yang memaksa mereka memilih jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka lah, yang profesi ayahnya membuat mereka minderlah, mereka yang terlalu mengekang, mengatur dan tidak memberi kebebasan lah, atau mereka yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka yang akhirnya kurang memperhatikan dan memberikan kasih sayang anak-anaknya lah yang pada akhirnya menjadi alasan pembenaran buat mereka melakukan kenakalan-kenakalan sebagai bentuk protes, pemberontakan atau apapun itu bentuknya.

Sahabat-sahabatku yang baik dan dilembutkan hatinya, sadarkah kita bahwa sesungguhnya apapun yang dilakukan oleh orang tua kita sebenarnya adalah demi kita anak-anaknya, seorang ayah atau ibu yang terlalu sibuk bekerja dan akhirnya tidak memiliki waktu dan seolah-olah lupa memperhatikan anak-anaknya, semua itu dilakukan demi anak-anaknya, mereka ingin kebutuhan anak-anaknya tercukupi, mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak,mereka tidak ingin melihat anaknya kelaparan,kurang pendidikan apalagi sampai harus menderita arena kekurangan biaya.

Demi kecintaan pada anaknya kadang tidak sedikit diantara para orang tua yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi, hingga melakukan korupsi dan kejahatan lainnya tanpa kita anak-anaknya ketahui. Tidak sedikit dari mereka yang rela menghinakan diri bekerja apapun bahkan menjadi pengemis atau pemulung demi menghidupi anak-anaknya. Seperti cerita teman kita di atas bagaimana ayahnya memilih profesi sebagai bank keliling, yang “maaf” mungkin kasarnya kita lebih mengenalnya dengan istilah rentenir demi menghidupi anak-anaknya, walaupun sesungguhnya saya yakin di dalam lubuk hatinya beliau sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah dosa, dan saya yakin tidak sedikit tentunya hinaan, sindiran, hujatan dan omongan buruk yang diterima oleh ayahnya selama menjalani profesi itu,tapi dia menyimpan itu semua sendiri sengaja menyembnyikan hal itu dari anak-anaknya, karena mereka tidak ingin melihat anaknya sedih dan merasa malu juga. Bayangkan lebih dari 20 tahun sudah ayahnya menggeluti profesi itu,dan selama itu pula ayahnya menyimpan beban batin yang diterimanya atas profesi yang dijalaninya itu, dan saya juga sangat yakin kalau beliaupun sadar bila anak-anaknya pasti merasa malu dengan profesi ayahnya,dan saya sangat yakin mereka pun selalu dihantu perasaan berdosa pada anak-anaknya karena tidak bisa memberikan nafkah dengan jalan yang benar-benar halal.

Ada juga dari sahabat-sahabat yang merasa dikekang dan terlalu diatur sama orang tuanya, tapi sadarkah sahabatku, bahwa sesungguhnya mereka melakukan semua itu karena terlalu cintanya mereka kepada kita anak-anaknya, mereka tidak ingin melihat anaknya berbuat sesuatu yang berakibat fatal buat kehidupannya, mereka tidak ingin anak-anaknya terjerumus pada perbuatan dan pergaulan yang salah,mereka tidak ingin melihat anaknya sampai salah memilih jalan ataupun pasangan hidup, karena terlalu ingin melihat kehidupan anak-anaknya bahagia, walaupun seringkali cara mereka tidak sesuai dengan hasrat dan ego kita, walaupun kadang cara mereka akhirnya malah menyakiti kita, tapi bagaimanapun sesungguhnya apapun yang mereka lakukan karena mereka sangat ingin membahagiakan kita.

Sahabat-sahabatku yang baik budinya dan berhasrat membahagiakan orang tua, untuk membahagiakan mereka tak perlulah menunggu kita mampu dan kaya, karena saya yakin bukan itu yang mereka inginkan, dan belum tentu juga kita memiliki kesempatan itu,bisa jadi kita tak diberi kemampuan harta untuk melakukannya, atau mungkin kita atau orang tua kita tak memiliki cukup waktu dan usia hingga saat itu. Cukuplah dengan cara sederhana membahagiakan mereka, bersikaplah baik pada mereka, berterima kasih lah pada mereka dan tunjukkan rasa terima kasih kita itu dengan sikap kita dan syukur-syukur bila kita mampu memberikan sesuatu yang bisa membuat mereka bangga pada kita,dan mereka bisa dengan bangganya menceritakan anaknya pada saudara, teman atau kolega mereka, bila kita masih merasa belum mampu melakukan itu, paling tidak jaga diri kita untuk tidak menyakiti hati mereka dengan sikap kasar kita atau dengan kenakalan kita, yang membuat mereka merasa sakit dan merasa malu. Dan salah satu bakti terbaik seorang anak pada orang tuanya dan sangat mudah, murah dan sederhana untuk dilakukan adalah do’a kebaikan terbaik untuk mereka, karena do’a kitalah yang tidak hanya membuat mereka bisa hidup bahagia tapi juga bahkan mampu menyelamatkan mereka dari api neraka dan mengantarkan mereka masuk surga.

Ingatlah suatu saat kitapun akan menjadi orang tua untuk anak-anaknya, apa yang kita perbuat pada orang tua kita itu pulalah nanti yang akan kita dapatkan dari anak-anak kita.Jadilah anak-anak terbaik berbakti, jadilah anak-anak yang mampu berterima kasih, jadilah anak yang membanggakan dan membahagiakan orang tua, dan jadilah anak-anak yang selalu mendo’akan kebaikan untuk orang tuanya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah,ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (Sang Nabi)

Hari minggu di awal desember
Pertapaan Aster 81
Bandung 2 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar