Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

SIAPA TUHANMU?!






'Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Al-Baqoroh : 165)

Benarkah kita yakin bahwa Tuhan kita adalah Allah? benarkah kita yakin hanya Allah satu2 nya tempat kita bergantung dan berharap? Saat kita berazzam memiliki mimpi & keinginan apa yang pertama kali kita lakukan? berdo'a meminta dan berserah kepada Allah atau berusaha memutar otak,mendata sumberdaya yang dimiliki diri,membuat SWOT analisis? menghubungi relasi dan kerabat?


Siapa yang pertama kali terfikir untuk kita datangi dan mintai pertolongan? Allah kah? atau orang-orang yang kita anggap memiliki potensi yang memungkinkan dimintai bantuan atau apa yang kita punya dan bisa kita lakukan?

Tuhan adalah Dia yang paling banyak menyita waktu kita,tenaga,fikiran dan harta kita,Dia yang segala apa yang kita lakukan demi untuk-Nya,Dia yang kita merasa takut kehilangan-Nya,pertanyaannya siapakah yang paling mendominasi fikiran,perasaan,tujuan dan kehidupan kita? Manusia? Pekerjaan? Kesenangan? Keinginan? dan siapa yang kita sangat takut,khawatir dan tdk mau kehilangannya?dan merasa bersedih saat harus berpisah dan kehilangan dirinya?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Al-'Anfāl:2) 

Ayat di atas menggambarkan perasaan seorang pecinta,pertanyaannya siapakah yang setiap kita mendengar namanya,mengingatnya membuat hati kita berdesir dan bergetar,siapakah yang semakin sering kita mendengar cerita2nya,kisah2nya,semakin dekat dan mengenalnya semakin bertambah rasa cinta kita kepadanya? dan kepada siapa kita bergantung,berserahdiri,menjadikannya sbg tujuan dan tambatan hati serta tujuan hidup kita? Jangan2 kita termasuk orang yang disebut dlm surat al-Baqarah 165 diatas yang mencintai dan menyembah tandingan-tandingan Allah seperti kita menyembah dan mencintai Allah?

Dan bila kita mengaku mencintai Allah,mencoba mengejar ridho Allah tapi justru energi,perasaan,fikiran dan seluruh sendi dan kehidupan kita justru lebih berat pada selain Allah pertanda kita termasuk orang yang Munafiq dan termasuk pada orang yang Allah sebut dimatikan hatinya,ditutup pendengaran dan penglihatannya oleh Allah?

Na'uudzubillaahi min dzalik semoga kita termasuk orang yang diberi hikmah dan petunjuk serta pemahaman seperti yg disebut Allah dlm al-Baqarah 269.

"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah : 269)

"Rebahkan pikiranmu. Jangan biarkan ia menjatuhkan bayang atas rembulan hatimu. Pemikiran ... biarkan ia pergi. - Rumi -


Salam

Pertapaan Aster 81
23 Oktober 2013

Kamis, 26 September 2013

4 ISTRI, KEBAHAGIAAN DAN KESEHATAN JIWA


Dikisahkan seorang raja yang memiliki 4 orang permaisuri, namun sang raja bersikap tak adil dalam memperlakukan para permaisurinya, permaisuri ke 4 adalah permaisuri yang paling dicintainya, apapun yang dimiliki oleh sang raja semuanya untuk membahagiakan permaisuri ke 4 nya itu, apapun yang diminta oleh permaisuri ke 4 nya itu sang raja akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi permintaannya.

Permaisuri ketiga adalah permaisuri yang selalu mendampingi, mendukung dan membantu sang raja dalam setiap usaha dan perjuangannya. Dan permaisuri kedua adalah permaisuri tempat sang raja mencurahkan segala keluh kesah dan beban hidupnya serta permaisuri kedua inilah yang selalu mendengarkan setiap keluh kesah sang raja kemudian berusaha menghibur dan menguatkannya.


Suatu ketika sang raja menghadapi sakaratul maut, dia merasa sangatt ketakutan apalagi bila teringat bila nanti dia mati dia akan tinggal sendirian di dalam kubur sedangkan selama ini dia sudah terbiasa hidup selalu ditemani banyak orang terutama para permaisurinya. Akhirnya sang raja memutuskan meminta permaisuri-permaisurinya untuk menemaninya di dalam kubur. Dipanggillah permaisuri ke 4, wahai permaisuriku engkau tahukan bila engkau adalah permaisuri yang paling kucintai, apapun yang kumiliki dan kulakukan adalah untuk membahagiakanmu, sekarang aku mau mati, maukah engkau menemaniku di dalam kubur? si permaisuri ke 4 ini berkata "itu tak mungkin", kemudian dia pergi meninggalkan sang raja begitu saja, sang raja merasa sangat sedih dan sakit hati.

Lalu dipanggillah permaisuri ketiga, dan sang raja berkata "wahai permaisuriku engkau adalah permaisuri yang paling setia mendampingiku dan mendukungku dalam setiap perjuanganku, sekarang aku mau mati maukah engkau mendampingiku di dalam kubur? dia menjawab "suamiku dunia ini terlalu indah untuk kutinggalkan, bila engkau mati suamiku maka aku akan mencari suami yang lain." Remuk redam merasa berputus asa hati sang raja mendengar itu, dia semakin bersedih hati dan mulai berputus asa.

Kemudian dipanggillah permaisuri kedua yang menjadi permaisuri terakhirnya, lalu sama dengan sebelumnya sang raja pun berkata "wahai permaisuriku engkau adalah satu-satunya permaisuri yang paling setia menjadi tempat mencurahkan segala keluh kesah dan kesedihanku, sekarang aku mau mati, aku takut berada di dalam kubur sendirian, permaisuri ketiga dan keempat tak mau menemaniku, hanya kaulah satu-satunya harapan terakshirku, maukah kau menemaniku di dalam kubur?" lalu sang permaisuri menjawab "maaf suamiku aku hanya bisa menemanimu sampai pemakamanmu saja setelah itu aku akan kembali ke istana. Sang raja kini benar-benar merasa berputus asa, sedih tiada tara.


Di tengah kesedihan dan keputus asaannya tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang begitu lirih dan lemah, "jangan kuatir tuan raja masih ada aku yang akan setia menemanimu kemanapun kau pergi, aku akan menemanimu di dalam kubur. Sang raja merasa sangat kaget kemudian berusaha mencari-cari sumber suara itu, ternyata ada seorang wanita yang begitu kurus tak terurus, dia terlihat begitu lemah, hingga akhirnya sang raja mengingat dan mengenali sosok wanita itu ternyata dia adalah sang permaisuri pertama yang telah lama terlupakan, padahal dia adalah permaisuri yang selalu mendukung dan tak pernah protes apapun keputusan sang raja, dia adalah permaisuri yang paling setia.

Untuk semua yang merindukan kebahagiaan dalam jiwanya, sesungguhnya raja itu adalah gambaran diri kita, permaisuri keempat itu adalah raga kita, apapun yang disenangi dan diingini oleh raga kita selalu berusaha kita penuhi, pakaian, makanan bahkan hingga pasangan pun dipilih yang bisa menyenangkan raga kita, tapi saat kita mati raga kita itu hanya akan jadi konsumsi ulat dan cacing tanah. Permaisuri ketiga adalah harta dan kekuasaan kita, mereka adalah pendukung segala usaha dan perjuangan kita, mereka adalah pendukung kebahagiaan kita, tapi saat kita mati maka mereka hanya akan menjadi harta warisan yang akan diperebutkan dan menjadi milik orang lain. 

Permaisuri kedua adalah keluarga kita, mereka adalah malaikat-malaikat tak bersayap yang selalu menjadi tempat kita kembali disaat kita sedih dan susah, tempat kita menumpahkan resah, gelisah dan segala keluh kesah, mereka akan selalu menerima kita dengan segala kekurangan, keburukan dan ke tak sempurnaan kita, namun saat kita mati mereka pun tetap tak akan menemani kita masuk ke dalam kubur, mereka hanya akan temani kita hingga liang lahat setelah itu akan kembali dan meninggalkan kita. Dan permaisuri pertama adalah jiwa kita yang seringkali kita lupakan dan terlantarkan padahal dialah yang selalu mendukung dan menemani kita kemanapun kita pergi hingga masuk liang lahat dan menghadap Tuhan sekalipun.


Jiwa adalah dia yang akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia, dia jugalah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya, bila sehat jiwa kita maka akan sehat pula lah seluruh tubuh dan kehidupan kita. Ibadah adalah sumber kehidupan kita, dia akan melemah saat kita memanjakan raga, karena saat memanjakan raga saat itu kita tengah meracuninya, melemahkannya dan membunuhnya perlahan-lahan. Tapi sebaliknya dia akan menjadi kuat saat kita melatih raga dengan banyak berpuasa dari berbagai kesenangan dunia, puasa adalah latihan terbaik bagi jiwa, melatih jiwa hingga mampu menguasai kehendak raga dan nafsu.

Kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, kegalauan, emosi yang tak terkendali, frustasi yang kerap menghampiri dan segala bentuk ketidak bahagiaan yang mengantarkan pada keputus asaan disebabkan oleh lemahnya jiwa, sulitnya beribadah, beratnya taat, tak kuasanya menikmati khusyu, hingga melemahnya Iman dan terasa menjauhnya diri dari Tuhan pun sebab jiwa yang terlemahkan karena racun kesenangan raga dan nafsu yang dimanjakan. Segala Ibadah adalah makanan bagi jiwa dan segala kebajikan adalah vitamin yang menguatkan bagi jiwa, sedangkan racunnya adalah mengikuti segala hasrat dan keinginan akan kesenangan raga juga kepuasan nafsu, bila jiwa ingin sehat, bahagia selalu dirasa, maka perbanyaklah ibadah dan kurangilah mengikuti keinginan memanjakan kesenangan raga dan kepuasan nafsu, agar sehat jiwa kita, kedamaian, ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan hidup senantiasa menyertai. 

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada (jiwa) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus : 57)

"Barangsiapa yang berserah diri kepada Allah, sedang dia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan-nya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (Al-Baqarah:112)

"Wahai Jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku." (Al-Hasyr : 27-30)

Hamba-hamba yang menyibukkan dirinya dengan beribadah dan melakukan amal kebajikan maka jiwanya penuh ketenangan, kehidupannya penuh kebahagiaan, dan hatinya penuh kedamaian, tiada pernah merasa takut, khawatir dan bersedih hati, itulah syurga dunia, syurga sebelum syurga yang sesungguhnya. Semoga kita semua bisa termasuk ke dalam golongan ahlinya.

Salam
Pertapaan Aster 81
Dhuha 27 September 2013


Sabtu, 21 September 2013

NERIMO ING PANDUM


Seringkali bila ditanya sesungguhnya apa sih tujuan hidup kamu? dengan bangganya kita jawab mencari ridho Allah!  Seolah jawaban kita itu menjadikan kita hamba yang baik,tanpa sadar terbersit dalam diri kita memiliki tujuan yang lebih mulia daripada orang lain, lalu kitapun merasa diri menjadi manusia mulia yang lebih mulia daripada orang lain yang tak memiliki tujuan yang sama.

Hei awas hati-hati itu kesombongan sudah merasuk kedalam diri kita. Coba renungi kembali benarkah kita benar-benar berharap ridho Allah?

Pertanyaan sederhana mungkinkah kita mampu meraih ridho Allah bila kita tak benar-benar yakin bila apa yang Allah beri untuk kita itu benar-benar yang terbaik untuk kita? bagaimana mungkin kita mendapat ridho Allah bila kita tak mau ridho atas apa yang Allah tetapkan atas diri kita?!

Coba renungkan, bila memang kita mencari ridho Allah mengapa kita mengeluh atas apa yang Allah tetapkan untuk kita? bila memang kita mencari ridho Allah kenapa kita masih merasa takut,sedih dan khawatir akan kehidupan dunia kita? bila memang kita mencari ridho Allah kenapa begitu ngototnya kita mencari kehidupan dunia yang lebih baik? bila kita berfikir apa yang kita terima kurang baik sehingga mencari kehidupan yang lebih baik  berarti disadari atau tidak apa yang Allah beri untuk kita saat ini kita anggap kurang baik dan akhirnya tanpa sadar kita menganggap Allah tidak tau apa yang terbaik untuk kita. 

Bukankah apa yang terjadi pada kita semua terjadi atas kehendak Allah? dan bukankah bila Allah berkehendak artinya ada ridho Allah di dalamnya? bagaimana mungkin Allah menetapkan sesuatu yang tidak diridhoiNya? Jadi pertanyaannya bukan apakah Allah ridho pada kita tapi apakah kita sudah ridho atas ridho Allah pada diri kita?

Bukan berarti kita tidak boleh berusaha yang terbaik untuk kehidupan kita, justru kita wajib melakukan usaha terbaik dengan mengerahkan semua potensi terbaik kita dalam menjalankan hidup, namun perkara hasil itu urusan Allah, apapun hasilnya, apapun yang terjadi dan apapun yang diberi kita harus menerimanya dengan hati yang penuh ke ridloan. Inilah makna falsafah jawa "Nerimo Ing Pandum - Menerima dengan ridho segala pemberian"


Bila kita ridho pada apa yang Allah ridho pada kita maka secara otomatis kita akan menerima apapun yang telah ditetapkan-Nya pada kita dengan senang dan ikhlash hati, termasuk agama yang diturunkan-Nya pada kita hingga kita mampu dan senang hati menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya hingga kita menjadi manusia yang memenuhi standar takwa tanpa kita sadari. Bila kita ridho atas ridho-Nya maka kita akan yakin bahwa apapun yang Dia berikan itu yang terbaik untuk kita, dan bila kita yakin apa yang kita terima itu yang terbaik untuk kita maka otomatis apapun yang kita terima membuat kita selalu bahagia.

Orang-orang yang ridho atas keridhoan Allah pada dirinya maka berkali-kali Allah sebut dalam al-Qur'an "Tidak ada ketakutan dalam diri mereka dan tidak pula mereka bersedih hati". Jadi bila kita masih suka mengeluh, bersedih hati, khawatir dan disergap rasa takut pertanda lemahnya iman kita,kita tidak yakin akan janji dan kuasa Allah,kita menganggap-Nya kecil tak tau apa yang terbaik untuk kita,tak mampu memberi yang terbaik untuk kita, keluh kesah kita bukti nyata kita menyalahkan Allah. Kekhawatiran dan ketakutan kita akan kehidupan dunia kita pertanda bahwa kita tidak percaya bila Allah menjaga dan menghidupi kita.

Belajarlah untuk ridho atas apa yang Allah telah tetapkan untuk kita, maka hidup akan selalu terasa indah, musibahpun akan terasa sebagai anugerah, diri terbebas dari rasa takut, resah dan gelisah, dan segala ibadah akan kita jalankan dengan ikhlas tanpa rasa lelah, Jiwa menjadi tenang, hati selalu merasa senang, hingga kembali kepada Allah dalam keadaan ridho dan diridhoi Allah SWT.

"Hai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho lagi di ridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam Syurgaku." (Al-Fajr 27-30)

Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk mampu ridho atas segala ridho-Nya.

Salam
Pertapaan Aster 81
Menyongsong Senja 21 Sept 2013

Rabu, 18 September 2013

TAHU DIRI DONG


Bagaimana bila ada orang yang numpang hidup di rumah kita, dikasih makan sama kita, seluruh hidupnya kita fasilitasi dengan fasilitas terbaik, kita jamin segala kebutuhannya terpenuhi, tapi orang itu bersikap tak tahu diri dan tak tahu malu? gak mau bekerja, bersikap sok berkuasa, tidak menghargai kita, suka pamer dan mengaku-ngaku bila semua fasilitas yang kita pinjamkan kepadanya adalah miliknya dan hasil kerja kerasnya, hidup seenaknya tak mau mengikuti aturan main di rumah kita, dan selalu komplain, ngeluh bahkan sampai menjelek-jelekkan kita bila mendapat hidangan atau fasilitas yang tidak sesuai dengan selera egonya. Kira-kira bagaimana perasaan dan penilaian kita bila ditumpangi orang yang seperti itu?

Mungkin begitulah gambaran hidup kita, seringkali bersikap seperti orang yang hidup numpang tapi bersikap tak tahu diri dan tak tahu malu seperti cerita di atas. Bukankah kita hidup di dunia ini hidup di bumi Allah, menggunakan fasilitas Allah, hidup dengan menikmati hidangan (rejeki) yang telah Allah sediakan untuk kita, serta mendapat jaminan pemenuhan kebutuhan hidup terbaik dari Allah?

Lalu bagaimana bila kita tak mau beribadah, tak mau mengikuti aturan Allah, sok berkuasa mengatur dunia, merasa bangga dengan prestasi, harta, jabatan dan ilmu yang dimiliki padahal semua itu sebenarnya bukan milik kita tapi hanya fasilitas pinjaman dari Sang Tuan Rumah yaitu Allah SWT. Lalu kita selalu berkeluh kesah bahkan tak jarang hingga menyalahkan Allah saat menerima takdir yang tidak sesuai dengan selera ego kita?

Bila kita melakukan semua perbuatan tersebut di atas bukankah berarti kita sungguh menjadi orang yang tak menghormati Allah? Bukankah berarti kita adalah orang yang sangat tak tahu diri dan tak tahu malu? Lihatlah topeng monyet, monyet saja tahu diri dia patuh dan mau mengabdi kepada tuannya yang telah memeliharanya, lalu apakah kita masih mau merasa diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling mulia?

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tahu diri dan tahu malu dalam menjalani kehidupan di dunia ini.


Salam
Pertapaan Aster 81
Fajar 18 September 2013


Rabu, 21 Agustus 2013

SAMPAN TUHAN


Yaa Tuhan mengapa Engkau tak mengabulkan do'aku, kenapa Engkau tak menolongku?! protes seorang hamba kepada Tuhan saat dia bertemu dengan Tuhannya setelah kematiannya, padahal hamba ini adalah seorang hamba yang sangat shaleh, dia adalah seorang hamba yang benar-benar berserah diri secara total kepada Tuhan, tak pernah ia bergantung, berharap dan meminta kecuali hanya kepada Tuhan. Dan karena keshalehan dan keberserah diriannya itu maka Tuhan selalu menjawab setiap do'anya secara spontan, kecuali hari itu dihari akhir usianya.

Hari itu tiba-tiba badai tsunami menerjang desanya, banyak orang meninggal terbawa arus, kebetulan rumahnya agak jauh dari pantai hingga saat tsunami tiba dia masih sempat naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri, setelah berada di atap rumah kemudian dia berdo'a kepada Tuhan : "Yaa Tuhan hanya kepada-Mu aku bergantung dan hanya kepada-Mu aku berserah diri, maka aku memohon kepada-Mu selamatkanlah aku dengan tangan-Mu."

Tak lama setelah si hamba berdo'a melintaslah beberapa orang dengan sebuah sampan, kemudian yang di sampan berteriak mas ayo cepat naik sampan bersama kami, lihat air sudah semata kaki sebentar lagi air naik, dengan halus si hamba menolak, silakan duluan saya sedang menunggu pertolongan dari Tuhan, maka mereka pun pergi berlalu meninggalkan si hamba, saat air sudah sampai sepinggang si hamba, lewatlah satu sampan lagi dan juga sama seperti sampan yang pertama menawarkan bantuan, mas ayo cepat naik sampan ikut kami sebentar lagi air naik, lagi-lagi si hamba menolak dengan alasan yang sama, dia sedang menunggu pertolongan dari Tuhan, kemudian sampan kedua itupun pergi berlalu, ketika air sudah hampir seleher si hamba lewat lah sampan ketiga dan menawarkan bantuan, tapi dengan alasan yang sama si hamba pun menolaknya, hingga akhirnya sampan ketiga pun pergi berlalu meninggalkannya..

Banjirpun terus naik hingga si hamba tenggelam terbawa arus, pertolongan Tuhan yang diharapkannya pun tak kunjung tiba dan akhirnya dia pun mati tenggelam. Setelah dia mati dia pun bertemu Tuhannya, dan saat bertemu Tuhan dia pun mengajukan protes pada Tuhan :"Yaa Tuhan mengapa Engkau tak mengabulkan do'aku, kenapa Engkau tak menolongku?!" mendengar protes hamba-Nya itu Tuhan pun menjawab : "Apa kamu lupa setelah kamu berdo'a kukirimkan tiga kali hambaku dengan sampannya untuk menolongmu, tapi kamu menolak bantuan mereka, padahal mereka adalah hamba-hamba yang kugerakkan dan kukirimkan untuk menolongmu sebagai jawaban atas do'amu itu."

Cerita di atas hanyalah sebuah cerita fiksi belaka, tapi sadarkah kita seringkali kita mengalami seperti apa yang dialami oleh si hamba dalam cerita di atas, seringkali kita berdo'a tapi kita merasa Tuhan tidak mengabulkan do'a-do'a kita, padahal bisa jadi sesungguhnya Tuhan sudah mengabulkan do'a kita hanya wujud dan tempat pengabulannya tidak sesuai dengan harapan dan bayangan kita, hingga tanpa sadar kita pun menolaknya.

Tuhan memang seringkali menurunkan anugerah-Nya untuk kita di tempat atau dalam wujud yang bertolak belakang dengan ego dan kesombongan kita, agar kita menjadi rendah hati, seringkali dalam berdo'a kita malah mencoba mengatur Tuhan dengan memaksanya mengabulkan do'a yang sesuai dengan harapan dan perrmintaan ego kita, padahal belum tentu hal itu baik dan kita butuhkan, namun Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri.

Kita memang wajib untuk berdo'a, namun untuk hasilnya biarkanlah Tuhan yang menentukan dengan kehendak-Nya, tugas kita adalah rendahkan hati, buka mata, buka telinga, perhatikan sekeliling kita, bisa jadi Tuhan simpan jawabannya ditempat yang tidak kita duga, bisa jadi ditempat yang paling hina dan menjijikan buat kita, atau bisa jadi Dia titipkan lewat orang yang tak kita duga-duga, bisa jadi lewat orang tua, teman, anak kecil, pengemis atau bahkan mungkin lewat penjahat dan orang gila.

Pelajaran kedua, sampan dalam cerita di atas bisa jadi gambaran dari pertolongan dan teguran Tuhan untuk kita yang tanpa sadar telah melupakan Tuhan, mungkin kita telah terlalu banyak berbuat dosa hingga Tuhan mencoba menolong kita dan menyadarkan kita, walaupun caranya seringkali tak sesuai dengan ego kita, bisa jadi Tuhan gerakkan adik kita, bahkan mungkin orang yang paling kita benci untuk mengingatkan kita, atau lewat sebuah kejadian, kecelakaan, kebangkrutan, atau sakit parah misalnya, saat itu Tuhan sengaja membuat kita tak berdaya agar kemudian kita sadar, saat itu Tuhan sedang mengajak kita kembali pada-Nya. 

Mungkin sudah berkali-kali Tuhan menegur kita, mengirimkan sampan untuk menolong kita, tapi berkali-kali pula kita mengabaikannya. Pertanyaannya apakah kita tahu mana sampan terakhir yang Tuhan kirim untuk kita, bisa jadi Teguran dan kesempatan yang kita terima saat ini adalah sampan terakhir untuk kita.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang berakal." (3:190)

Salam
Pertapaan Aster 81
1/3 malam 15 Syawal 1234H

Sabtu, 10 Agustus 2013

Para Pemenang

Ramadhan artinya adalah pembakaran, bulan saat dimana Allah dengan kasih sayang-Nya selama sebulan penuh membakar dosa-dosa dan segala sifat tercela yang ada dalam diri hamba-Nya melalui momentum ibadah puasa yang diwajibkan kepada seluruh hamba-Nya yang yakin kepada-Nya selama sebulan penuh, sehingga diharapkan setelah sebulan penuh kita menjalani ibadah puasa kita bisa 'Iedul Fithri (Kembali Suci) seperti bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia dalam keadaan telanjang, polos tanpa dosa, tanpa pakaian kesombongan, kedengkian, ketamakan, dan kemunafikan serta sifat-sifat tercela lainnya dalam diri. maka jelaslah puasa yang sesungguhnya tidaklah hanya berpuasa menahan diri dari rasa lapar, dahaga dan hasrat seksual saja, tetapi juga berpuasa seluruh indra, akal dan hati kita dari melenakan hawa nafsu.

Puasa Ramadhan adalah ajang setiap hamba untuk meng upgrade kualitas diri, kehidupan dan keimanan melalui proses penyucian diri agar kita hidup lebih bahagia dan selalu berada dalam keberuntungan serta terhindar dari perbuatan-perbuatan yang akan merugikan diri sendiri, sebagaimana firman-Nya "Sungguh (telah dan akan selalu) beruntung orang yang menyucikan (jiwa) nya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (91:9-10). Bukankah emas tidak mungkin menjadi perhiasan yang indah dan mahal harganya bila tanpa melalui proses pembakaran dan pembentukan terlebih dahulu? Begitu pula jiwa dan keimanan kita tak akan mungkin kita bisa memiliki jiwa yang mulia dan sempurna tanpa proses penyucian diri melalui pembakaran sifat-sifat tercela dalam diri (Takholli) dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji (tahalli). 

Syawal itu artinya peningkatan, tidak semata-mat Allah menamai bulan setelah ramadhan dengan nama syawal kecuali ada maknanya. Seseorang yang telah melalui masa pelatihan Allah selama bulan Ramadhan akan mengalami peningkatan kualitas diri baik dalam sisi keimanan, akhlak, etos kerja dan kemanfaatan. Hingga mabrur (diterima/lulus) tidaknya ibadah puasa kita di bulan ramadhan akan tampak setelah Ramadhan usai dan memasuki bulan syawal.

Diantara tanda-tanda ibadah puasa yang mabrur adalah pola hidup yang semakin sederhana karena kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsunya telah terasah, kejujurannya pun meningkat karena selama puasa kita telah melatih rasa diri selalu diawasi oleh Allah (muroqobah) hal ini terbukti setiap hamba yang berpuasa tetap menjaga puasanya walaupun tak ada seorangpun yang mengawasinya, lebih banyak memberi manfaat karena rasa lapar dan keterbatasan gerak selama puasa telah mengasah kepekaan sosialnya, hidupnya menjadi semakin terarah dan bahagia karena dia semakin pandai bersyukur dan merasa tak memiliki alasan untuk mengeluh, kualitas dan kuantitas ibadahnya pun meningkat, hatinya semakin ikhlash, lembut dan pemaaf, tiada iri, dendam, dengki, marah, emosi, dan kesombongan, tutur katanya lebih terjaga dan terjauh dari pekerjaan yang sia-sia, jadilah dia manusia yang sempurna kebaikannya (insan kamil), makhluk yang paling mulia karena ketinggian akhlaknya, dan berhak meraih gelar muttaqin sebagaimana tujuan dari puasa yaitu membentuk pribadi yang bertakwa (muttaqin).

"Wahai orang-orang yang beriman! telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (2:183)

Itulah mengapa hari raya 'Iedul fithri disebut sebagai hari raya kemenangan, karena 'Iedul fithri merupakan hari dimana hamba-hamba yang telah sukses berpuasa sama artinya dia telah memenangkan peperangan yang Sang Nabi sebut sebagai peperangan terbesar umat manusia yaitu perang menaklukkan musuh dalam dirinya sendiri yaitu hawa nafsunya, sehingga untuk menjadi pemenang Nabi mengajarkan sebuah do'a di hari raya 'Iedul Fithri :

"Taqobbalallaahu minnii waminkum waja'alana minal 'aidin wal faizin (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian, dan semoga Allah menjadikan kita hamba yang kembali fithri dan meraih kemenangan)."

Wallaahu a'alam... Semoga kita termasuk ke dalam golongan Para Pemenang, yaitu golongan orang-orang yang ibadah puasanya mabrur dan berhak menyandang gelar muttaqin.

Salam
Pertapaan Aster 81
Hari Raya Kemenangan 1434 H

Jumat, 19 Juli 2013

Atas Cinta-Nya


Tersebutlah seorang wanita shalehah yang menjadi pelayan di sebuah rumah. Ia senantiasa melaksanakan shalat malam. Suatu malam sang majikan mendengar do'a-do'a yang ia baca dalam sujudnya, "Yaa Allah aku mohon kepada-Mu dengan cinta-Mu kepadaku agar Engkau memuliakanku dengan bertambahnya ketakwaan di hatiku... dan seterusnya."
Begitu ia selesai Shalat sang majikan bertanya kepadanya : "Darimana Engkau Tahu kalau Allah mencintaimu?" Ia pun menjawab : "Wahai tuanku, kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, bagaimana mungkin dia membangunkan aku pada waktu-waktu seperti ini. Kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku, bagaimana mungkin Dia menggerakkanku untuk shalat kepada-Nya. Kalau bukan karena cinta-Nya kepadaku mana mungkin Dia menggerakkan bibirku untuk bermunajat kepada-Nya?"

Sahabat, seringkali kita berfikir dan merasa bahwa kita adalah orang yang baik, orang yang beriman, orang yang beragama karena amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan, padahal semua amal ibadah dan kebaikan itu bisa kita lakukan karena karena cintanya Allah sama kita hingga Dia menggerakkan jiwa dan raga kita hingga kita bisa beribadah dan berbuat kebaikan. Dengan cinta-Nya Dia selalu memenuhi kebutuhan kita bahkan sebelum kita memenuhi memintanya, apa lagi yang kita minta pasti Dia kabulkan meskipun jalan, cara, waktu dan bentuknya seringkali tidak sama dengan yang kita inginkan tapi disesuaikan dengan yang kita butuhkan. Sebagaimana firman-Nya :
'Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Al-Baqarah : 186)

Karena cinta-Nya kita memiliki rasa syukur agar kita bahagia, dengan cinta-Nya Allah buatkan pedoman dan tuntunan hidup berupa agama dan kitab suci agar kita tidak tersesat yang akhirnya menjerumuskan kita pada kesengsaraan. Dengan cinta-Nya lah kita mengenal kebaikan dan berbuat kebaikan.

Dikisahkan ada seorang hamba yang shaleh meninggal dunia, dia seorang hamba yang sangat shaleh yang telah menghabiskan usianya selama 500 tahun untuk beribadah kepada Allah tanpa henti. Saat bertemu dengan Allah maka Allah berkata "Wahai hamba-Ku dengan rahmat-Ku masuklah engkau ke dalam surga-Ku." Kemudian hamba itu protes kepada Allah " Yaa Allah kenapa aku masuk surga dengan rahmat-Mu bukan karena amal ibadahku yang selama 500 tahun tanpa henti?" Mendengar protes hamba-Nya itu lalu Allah memerintahkan untuk menimbang 500 tahun amal shaleh yang dilakukan si hamba dengan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, dan hasilnya amal ibadah yang dia lakukan bagaikan sebutir debu di padang pasar dibandingkan dengan rahmat yang telah Allah limpahkan kepadanya. Lalu dengan perasaan yang sangat malu kepada Allah dia pun berkata "Yaa Allah masukkanlah aku ke surga dengan rahmat-Mu."
Ibnu Athoillah bertutur dalam kitab al-Hikam "Janganlah merasa silau dengan amal seseorang tapi silaulah dengan Dia yang menggerakkan-Nya."

Tak perlu kita merasa bangga, merasa shaleh, merasa baik dan merasa mulia karena ibadah dan amal baik kita, apalagi sampai berani menyesatkan, merendahkan dan mencibir orang yang tidak beribadah, atau orang yang berbeda pemahaman dan tatacara beribadahnya dengan kita, karena kitapun bisa beribadah hanya karena Allah yang menggerakkan. Allah Maha Tahu segalanya, bisa jadi ibadah kita malah mengantarkan kita pada kemungkaran dan kekufuran pada akhirnya, dan siapa tahu suatu saat kemaksiatan seseorang justru akan mengantarkan pelakunya kepada jalan Hidayah.
Teruslah berusaha menjadi shaleh dan baik, teruslah meminta dengan kesungguhan untuk mendapatkan cinta-Nya, karena bila Allah mencintai hamba-Nya maka ia akan menggerakkan hamba-Nya menjadi ahli ibadah, terhindar dari maksiat, serta hidup bahagia dengan penuh cinta, kemuliaan dan kemanfaatan.


Salam 
Pertapaan Aster 81
5 Ramadhan 1434 H

Minggu, 02 Desember 2012

APA BEDANYA KITA DENGAN IBLIS?





Siang itu tiba-tiba si pandir datang menemuiku ke kantor, shob  lagi sibuk gak? Kita makan siang di warung soto biasa yuk, udah lama ane kagak makan di situ, ajak si pandir padaku. Kebetulan hari itu saya memang sedang tidak punya kesibukan yang berarti, dan memang saat itu sudah waktunya juga makan siang, lalu saya pun mengiyakan ajakan si pandir itu, dan lalu kami pun berangkat menuju warung soto langganan kami itu untuk makan siang, sesampainya di sana kami di sambut senyum ramah bu haji pemilik warung, wah kemana aja nih mas ber 2 ini, lama gak mampir kesini, biasakan soto ayam campur 1 sama soto daging pisah 1 plus 2 gelas es teh manis kan, kata bu haji kepada kami. Bu haji memang sudah sangat akrab dengan kami dan beliau sudah sangat tau pasti apa yang akan kami pesan.

Kebetulan siang itu warung soto bu haji cukup ramai pembeli, jadi kami pun harus rela bersabar menunggu pesanan kami datang agak lama, sambil menunggu pesanan iseng kami pun menonton berita di televisi, kebetulan saat itu sedang ditayangkan berita tentang pembantaian warga muslim palestina oleh zionis Israel, dan berbagai aksi demo yang mengecam aksi agresi Israel itu yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai Negara di seluruh penjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Melihat tayangan itu saya iseng bertanya sama si pandir, sob bukankah do’a orang mukmin itu pasti dikabul? Dan bukankah ada sebuah keterangan yang menyebutkan bahwa sebuah do’a yang diamini oleh minimal 40 orang itu sama dengan do’anya seorang hamba yang sholeh yang do’anya mustajab? Tapi kenapa dari dulu begitu banyak orang islam dari berbagai penjuru dunia yang mendo’akan kehancuran zionis Israel karena kekejaman mereka membantai muslim di palestin tapi kok gak terkabul juga yah malah Israel semakin menjadi kuat? Seperti biasa setiap mendapat pertanyaan dariku si pandir selalu saja tertawa terbahak-bahak, kalau saja saya tidak kenal baik dengan si pandir makhluk paling aneh yang saya kenal, pasti saya sudah sangat marah dan tersinggung ditertawakan seperti itu. Tapi itulah pandir dengan segala keanehan dan kegilaan yang dimilikinya, dia selalu memiliki jawaban ajaib atas segala pertanyaan yang saya berikan.

Si pandir bertanya padaku, kamu tau apa itu artinya Islam? Pasrah jawabku, dan apa artinya Iman? Yakin jawabku sambil menerka-nerka kemanakah arah pertanyaan si pandir ini. Kalau begitu orang Islam adalah orang yang pasrah, yang memasrahkan segala hidup dan kehidupannya kepada Allah kan, dan dia meyakini bahwa tiada pemilik kuasa, kehendak dan kebenaran Yang Maha mutlak kecuali Allah kan? Ya setuju sekali jawabku. Berarti orang Islam seharusnya orang yang memasrahkan hidupnya kepada Allah, dan memasrahkan hidupnya untuk mau diatur oleh Allah, dengan kata lain umat Islam adalah umat yang dengan ikhlas dan pasrah menjalani kehidupan sesuai dengan aturan dan kehendak Allah seperti yang dicontokan oleh Rasulullaah kan? Yups betul sekali, sepakat sob jawabku kembali.

Si pandir melanjutkan pertanyaannya, sekarang ane mau nanya lagi ma ente sob masih ingatkan fungsi diutusnya Rasulullaah kepada kita? Yah saya ingat, untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam serta untuk menyempurnakan akhlak manusia. Yups tepat sekali sob, 100 buat ente, pertanyaan berikutnya, masih inget gak ente kisah waktu Nabi dilempari kotoran oleh orang-orang kafir Quraisy, lalu saat itu Malaikat jibril datang kepada Nabi menawarkan bantuan untuk menumpas mereka dengan melemparkan gunung uhud kepada mereka? Yah saya ingat cerita itu, yang kemudian Nabi menolaknyakan, saat itu Nabi berkata jangan Yaa jibril, siapa tau suatu saat mereka akan beriman, lalu jibril bertanya bagaimana jika mereka tidak akan pernah beriman? lalu Nabi menjawab siapa tau nanti anak cucu mereka ada yang beriman, lalu Jibril bertanya kembali bagaimana bila ternyata anak cucu mereka tidak ada yang beriman? Nabi kemudian menjawab siapa tau suatu saat nanti akan ada keturunannya yang beriman. Mendengar jawabanku itu lalu si pandir tersenyum sumringah.

Nah jadi kira-kira bagaimana menurut kamu sikap Rasulullah menghadapi perbuatan orang-orang kafir yang menganiaya Beliau apakah dengan perbuatan yang sama atau malah dengan sikap dan akhlak yang baik? Dan apakah Nabi mendo’akan azab keburukan untuk mereka? Tidak jawabku, Nabi menghadapinya dengan akhlak yang baik dan mendo’akan mereka dengan do’a balasan kebaikan untuk mereka, jawabku.  Tapi bukankah nabi pernah juga mendo'akan kehancuran untuk kafir Quraisy? tanyaku kembali, yah memang benar, tapi bukan karena kebencian tetapi Nabi mendo'akan kehancuran sebatas kekuatan mereka untuk menghentikan kerusakan yang disebabkan oleh mereka bukan meminta meluluh lantakkan mereka! Itulah kesempurnaan akhlak, itulah rahmat untuk seluruh alam, jadi bila kita membalas keburukan dengan keburukan apakah itu bisa disebut akhlak yang baik? Lalu apa bedanya kita dengan orang yang berbuat buruk kepada kita? Saat kita mendo’akan Israel atau siapapun yang telah mendzhalimi umat Islam luluh lantak, bukankah itu pertanda bahwa ada dendam dan dengki yang begitu besar dalam hati kita? Dan bukankah dendam itu pula yang menyebabkan bangsa Israel memusuhi Islam, dan bukankah dendam dan dengki itu pula yang menyebabkan iblis ingin menjerumuskan anak cucu adam? lalu apa bedanya kita dengan Iblis dan Israel? Apalagi bila kita bahkan memiliki keinginan mereka menerima balasan yang lebih berat lagi, benarkah itu yang Allah inginkan? berarti  bukankah kita saat itu sedang coba mengatur Allah untuk memenuhi hasrat dendam kita itu? lalu dimana letak akhlaknya? Lalu dimana letak rahmatan lil ‘alamin nya? Lalu dimana letak kepasrahannya? Dan dimana letak keyakinan kita pada kebenaran, keadilan, kehendak,kuasa dan kasih sayang Allah? Dan bukankah berarti saat itu kita bahkan tidak meneladani sunnah Rasulullaah? Lalu bila seperti itu masih pantaskah kita menyebut diri kita muslim (orang yang pasrah) dan pantaskah kita mengaku diri beriman? Dan kira-kira layakkah kita mengakui diri sebagai seorang hamba yang do’anya layak dikabulkan oleh Allah?

Bagaikan tersambar petir di siang hari bolong saat matahari sedang terik menyengat begitu mendengar serangkaian jawaban yang diberikan oleh si pandir, yah selama ini ternyata saya adalah orang yang memiliki sifat dendam dan dengki yang begitu besar, kalau dipikir-pikir betapa mudahnya saya mengutuki orang yang saya anggap berbuat jahat,bahkan tidak jarang saya ingin membalas orang-orang yang berbuat jahat pada saya dengan balasan yang setimpal bahkan kalau bisa lebih, sering juga disadari atau tidak terlintas dalam hati dan pikiran saya do’a agar orang-orang yang saya angap aniaya itu celaka atau mendapat azab, dan saking pendengki, pendendam dan sombongnya saya, saya menjauhi bahkan memusuhi orang yang saya anggap buruk, orang yang tidak sepaham dengan saya, atau orang yang tidak seidiologi dengan saya, bahkan tidak jarang saya bahkan menghasut orang lain untuk ikut menjauhi dan memusuhi mereka, bahkan bila orang yang kita tidak sukai itu mendapat musibah atau tertimpa kemalangan ada terbersit perasaan senang di hati, lalu apa bedanya saya dengan iblis?!

Tidak lama soto pesanan kami pun datang, lalu kamipun segera menyantap makanan pesanan kami itu, namun sambil menyantap makan siang kami itu, dada saya tak bisa berhenti bergemuruh, pikiran saya tak bisa berhenti memikirkan pembicaraan dengan barusan, yah sebuah kesadaran muncul, bahwa ternyata begitu besar Kesombongan dan iri dengki yang ada dalam diri ini. Astaghfirullaahal’adziim.

“Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (25:63)

Penghujung malam nan syahdu
Pertapaan Aster 81
Bandung,13 Desember 2012

Sabtu, 01 Desember 2012

JANGAN PERNAH TANYAKAN PEKERJAAN BAPAKKU




Hari minggu di awal Desember ini saya sedang ingin menikmati berlibur dan bersantai di rumah, ditambah melihat langit yang tampak sedang bermuram durja dan sudah siap menumpahkan tangisnya semakin memperkuat hasratku untuk  untuk tidak bepergian kemana-mana, sambil menikmati secangkir kopi ditemani beberapa kerat roti saya mulai berkutat dengan laptopku, saatnya mencari inspirasi dan berbagi inspirasi. Saya memiliki banyak sekali mahasiswa dan mahasiswi binaan,dan banyak sekali dari mereka yang memiliki cerita perjalanan hidup yang memberikan pelajaran luar biasa bagi saya, meskipun secara status sosial mereka adalah mahasiswa binaan saya, tapi bagi saya justru mereka adalah para guru kehidupan saya.
Entah kenapa dua hari ini saya teringat terus pada salah satu mahasisiwi binaan saya, Dia adalah salah satu mahasiswi yang termasuk binaan-binaan yang sangat dekat dengan saya. Tempo hari dia sengaja menuliskan kisah nya tentang ayahnya, karena kecintaan dan baktinya pada ayahnya, dan dia ingin berbagi hikmah bahwa bagaimana pengorbanan seorang ayah untuk anak-anaknya yang membuat dia mau melakukan apapun demi kita anaknya. Berikut ini adalah cerita yang ditulisnya:

Setibanya sore, lelaki kekar penuh semangat itu tiba di rumah. Tas yang dijinjingnya, ah biasa dia menyorenkannya pada bahunya berisi uang-uang recehan, dari mulai koin hingga uang kertas baik yang pecahan kecil hingga pecahan besar. Dan pastinya tugasku menghitung uang-uang tersebut bersama wanita yang setia menunggunya dirumah, ah itu ibu. Dengan menggendong adik yang masih kecil sekitaran umur 2 tahun kami selalu menghitung uang bersama. Mungkin karena waktu itu aku masih kecil, aku tak mengerti pekerjaan orangtua ku, yang paling penting aku dapati uang jajan. Mungkin seperti itulah rutinitas kami. Saat aku masuk SD aku ingat ada formulir isian yang harus diisi sepulang sekolah, seingat ku itu untuk biodata di buku Raport. Aku mengisinya bersama mereka, dengan dituntun mengisi form yang kosong satu persatu, ada yang kurang aku mengerti saat mengisi kolom pekerjaan orang tua, dan aku disuruh mengisinya dengan ‘wiraswasta’, itu tentu kosakata baru yang pernah aku dengar. Kemudian aku bertanya pada bapak, apa artinya wiraswasta, beliau hanya menjawab itu berarti bapak mu ini memiliki usaha sendiri, tidak bergantung pada orang lain.

“Ibu, aku mau masuk sekolah agama seperti teteh itu..”, rengek ku saat duduk dikelas 1 SD. Ibu menjawabnya dengan tenang, “nanti ya nak kalau kamu sudah kelas 2SD ibu masih belum berani kalau kamu harus pergi ke sekolah sendiri”. Tahun berikutnya aku masuk sekolah madrasah. Dengan rutin sepulang sekolah SD aku diantar oleh bapak sekalian pergi kerja, ah betapa senangnya memiliki teman-teman baru disana, ditambah pelajaran-pelajaran baru yang tidak aku dapatkan disekolah SD, seperti Fiqih, Tauhid, Sejarah Kebudayaan Islam, Khot, Mufrodat, Qiroah, dan lainnya. Seiring berjalannya waktu¸ aku lupa saat itu duduk di kelas berapa, yang aku ingat saat itu sedang disampaikan materi tentang riba, contoh yang sederhana dengan bahasa yang sederhana pula disebutkan meminjam uang, dan melebihkannya saat mengembalikannya adalah termasuk riba dan riba adalah sesuatu yang haram, dan yang haram akan membawa ke neraka. Aku langsung teringat pada sosok lelaki pemimin di rumah, setahu aku beliau sering meminjamkan uang pada orang lain dengan tambahan bunga. Ya inilah pekerjaan bapakku. Orang-orang dikampung sering menyebutnya dengan sebutan ‘bank keliling’. Sempat aku bertanya padanya, “Pa, pekerjaan bapak apa yah? Apa itu termasuk riba? Berarti gak halal?”, dengan nada takut karena materi yang didapat disekolah tadi, beliau menyangkal nya dengan berkata “lah ini bukan riba, karena kedua belah pihak ikhlas”. Setelah memikirkan sejenak, ya mungkin benar apa yang dikatakan beliau karena tidak ada pihak yang dizalimi, jawabannya membuat tenang.

Oh iya selain pekerjaan itu, pernah aku merengek pada bapak ingin punya warung, dan atas kesepakatan sekeluarga bersama ibu tentunya akhirnya setuju juga. Bapa membeli tanah di pinggir jalan, kebetulan saat itu ada yang akan menjual tanah. Dibangunlah toko sekaligus rumah yang dijadikan tempat usaha. Karena mungkin susah bila tempat tinggal dan toko terpisah, maka kami memutuskan untuk pindah rumah ke toko tersebut.

Segala puji hanya bagi Allah, Alhamdulillah usaha toko sembako lancar, begitu pula pekerjaan bapa. Kami bisa membeli motor baru, membangun rumah dan merasakan nikmat yang lainnya.

Saat kecil aku agak iri pada tetangga yang lainnya, ayah mereka bekerja pergi di pagi hari dan pulang di sore hari dengan pakaian seragamnya masing-masing. Sedangkan bapak ku pergi kerja sangat santai, pergi siang dan pulang sore, tapi bersyukur karena beliau memiliki waktu yang lebih banyak bersama kami di rumah.

Lama kelamaan usaha toko sembako diperbesar, dengan bantuan pinjaman dana dari bank kami bisa dapat memperbesar toko dengan menjadi grosiran. Seiring bertambahnya umur kebutuhan pun semakin meningkat, seperti biaya pendidikan. Mungkin sekarang aku sudah memasuki SMA yang lumayan membutuhkan biaya yang cukup tinggi karena berhasil masuk sekolah favorit pertama di kota tersebut. SPP per bulan, ditambah iuran dana pembangunan, buku sekolah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bapa mulai merasakan keuangan yang sulit dimana tiap bulan harus menyetorkan uang ke bank dan biaya keperluan lainnya seperti biaya pendidikan. Oh iya, ditambah aku memiliki adik baru lagi saat aku duduk dikelas 2SMP. Semakin berat beban yang ditanggung oleh beliau, tapi beliau percaya bahwasannya rezeki hanya Allah yang mengatur dan kita tinggal berusaha menjemputmnya.

Seiring pendidikan yang semakin tinggi, aku dapati ilmu yang semakin banyak pula. Masih teringat akan rasa penasaran sewaktu masih kecil, apakah pekerjaan bapak halal atau tidak. Lambat laun aku mengerti dan tahu dari beberapa hadist dan ayat dalam Quran memang riba adalah sesuatu yang haram.

Sampai kini aku kuliah semester 7, pengetahuan ku bertambah akan riba. Meminjam uang kepada bank, ya hal tersebut masuk kedalam kategori riba. Setelahnya itu aku memiliki kegundahan saat menyadari biaya sekolah dari kecil hingga sekarang kuliah berkenaan dengan pinjaman uang bank, dan itu adalah riba. Namun kadang berfikir ah kan orang tuaku berjualan juga, itu kan bukan riba. Aku pernah bertanya pada seseorang, seseorang yang bisa dikatakan sebagai guru, guru kehidupan boleh lah disebut seperti itu. Beliau berkata bahwa harta seperti itu adalah harta subhat, dimana tidak ada kejelasan halal/haramnya. Semenjak itulah aku merasakan perasaan tak tentu, kadang tiba-tiba menangis, sadar bahwa dari sewaktu aku kecil aku diberi makan oleh uang riba oleh sosok lelaki itu yang sekarang setia menemani ibu yang sedang sakit. Astagfirullah.
Sekarang apa yang dulu kami miliki satu persatu diambil kembali olehNya. Kadang aku berfikir mungkin ini balasan dariNya. Ya benar mungkin, Allah ingin memperlihatkan sebenarnya harta yang kamu dapatkan yang bersih tanpa riba nya itu seberapa. Ampuni hambamu ini ya Allah astagfirullah.

Dari mulai hidup foya-foya lalu kemudian biaya kuliah, dan sekarang ibu sakit. Wanita yang dulunya tidak pernah sakit parah, terlihat begitu sehat, tiba-tiba terserang penyakit yang menghabiskan uang berpuluh-puluh juta.

Karena bapak sibuk mendampingi ibu di rumah sakit, toko hanya buka saat adik pulang sekolah, dan adik sendiri yang mengelola di rumah. Dia masih sekolah SMA dan sekarang sudah sadar bahwasannya ibu adalah segalanya. Kami merasakan rasanya hampir kehilangan sosok ibu di rumah (semoga yang terbaik diberikan untuk ibu, aamiin).

Mungkin karena dirasa kini aku sudah dewasa dan bisa diminta pendapat untuk pengambilan keputusan. Bapa bertanya “bagaimana kalau rumah yang satu dijual, bapak hanya ingin ibumu sembuh, pergerakan penyakit sangat cepat, kalau saja telat menangani bapak bisa tambah repot kalau ibumu nanti sudah tidak ada, bapak sudah tidak bekerja ‘itu’ lagi, biar nanti bapa cari usaha baru”. Alhamdulillah puji syukur, ini sepotong kalimat yang membuat hati terasa begitu plong, terimakasih ya Allah engkau telah beri jalan baginya untuk kembali padaMu. Semoga kami tetap dalam keberkahanMu. Aamiin

Semoga bisa diambil hikmahnya, semoga dapat memberi pelajaran.

*******

Sungguh cerita yang sangat menyentuh, membacanya membuat mata ini tak mampu membendung air yang meleleh karena haru, dalam ratusan seminar dan training yang saya isi,terutama bila audience nya pelajar dan mahasiswa pasti ketika saya Tanya mimpi mereka pasti selalu saja banyak yang menjawab bahwa mereka ingin kaya dan bisa membahagiakan orang tua mereka, dan selalu ada saja yang menceritakan bagaimana kekecewaan mereka kepada orang tua mereka, apakah itu yang memaksa mereka memilih jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka lah, yang profesi ayahnya membuat mereka minderlah, mereka yang terlalu mengekang, mengatur dan tidak memberi kebebasan lah, atau mereka yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka yang akhirnya kurang memperhatikan dan memberikan kasih sayang anak-anaknya lah yang pada akhirnya menjadi alasan pembenaran buat mereka melakukan kenakalan-kenakalan sebagai bentuk protes, pemberontakan atau apapun itu bentuknya.

Sahabat-sahabatku yang baik dan dilembutkan hatinya, sadarkah kita bahwa sesungguhnya apapun yang dilakukan oleh orang tua kita sebenarnya adalah demi kita anak-anaknya, seorang ayah atau ibu yang terlalu sibuk bekerja dan akhirnya tidak memiliki waktu dan seolah-olah lupa memperhatikan anak-anaknya, semua itu dilakukan demi anak-anaknya, mereka ingin kebutuhan anak-anaknya tercukupi, mereka ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak,mereka tidak ingin melihat anaknya kelaparan,kurang pendidikan apalagi sampai harus menderita arena kekurangan biaya.

Demi kecintaan pada anaknya kadang tidak sedikit diantara para orang tua yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi, hingga melakukan korupsi dan kejahatan lainnya tanpa kita anak-anaknya ketahui. Tidak sedikit dari mereka yang rela menghinakan diri bekerja apapun bahkan menjadi pengemis atau pemulung demi menghidupi anak-anaknya. Seperti cerita teman kita di atas bagaimana ayahnya memilih profesi sebagai bank keliling, yang “maaf” mungkin kasarnya kita lebih mengenalnya dengan istilah rentenir demi menghidupi anak-anaknya, walaupun sesungguhnya saya yakin di dalam lubuk hatinya beliau sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah dosa, dan saya yakin tidak sedikit tentunya hinaan, sindiran, hujatan dan omongan buruk yang diterima oleh ayahnya selama menjalani profesi itu,tapi dia menyimpan itu semua sendiri sengaja menyembnyikan hal itu dari anak-anaknya, karena mereka tidak ingin melihat anaknya sedih dan merasa malu juga. Bayangkan lebih dari 20 tahun sudah ayahnya menggeluti profesi itu,dan selama itu pula ayahnya menyimpan beban batin yang diterimanya atas profesi yang dijalaninya itu, dan saya juga sangat yakin kalau beliaupun sadar bila anak-anaknya pasti merasa malu dengan profesi ayahnya,dan saya sangat yakin mereka pun selalu dihantu perasaan berdosa pada anak-anaknya karena tidak bisa memberikan nafkah dengan jalan yang benar-benar halal.

Ada juga dari sahabat-sahabat yang merasa dikekang dan terlalu diatur sama orang tuanya, tapi sadarkah sahabatku, bahwa sesungguhnya mereka melakukan semua itu karena terlalu cintanya mereka kepada kita anak-anaknya, mereka tidak ingin melihat anaknya berbuat sesuatu yang berakibat fatal buat kehidupannya, mereka tidak ingin anak-anaknya terjerumus pada perbuatan dan pergaulan yang salah,mereka tidak ingin melihat anaknya sampai salah memilih jalan ataupun pasangan hidup, karena terlalu ingin melihat kehidupan anak-anaknya bahagia, walaupun seringkali cara mereka tidak sesuai dengan hasrat dan ego kita, walaupun kadang cara mereka akhirnya malah menyakiti kita, tapi bagaimanapun sesungguhnya apapun yang mereka lakukan karena mereka sangat ingin membahagiakan kita.

Sahabat-sahabatku yang baik budinya dan berhasrat membahagiakan orang tua, untuk membahagiakan mereka tak perlulah menunggu kita mampu dan kaya, karena saya yakin bukan itu yang mereka inginkan, dan belum tentu juga kita memiliki kesempatan itu,bisa jadi kita tak diberi kemampuan harta untuk melakukannya, atau mungkin kita atau orang tua kita tak memiliki cukup waktu dan usia hingga saat itu. Cukuplah dengan cara sederhana membahagiakan mereka, bersikaplah baik pada mereka, berterima kasih lah pada mereka dan tunjukkan rasa terima kasih kita itu dengan sikap kita dan syukur-syukur bila kita mampu memberikan sesuatu yang bisa membuat mereka bangga pada kita,dan mereka bisa dengan bangganya menceritakan anaknya pada saudara, teman atau kolega mereka, bila kita masih merasa belum mampu melakukan itu, paling tidak jaga diri kita untuk tidak menyakiti hati mereka dengan sikap kasar kita atau dengan kenakalan kita, yang membuat mereka merasa sakit dan merasa malu. Dan salah satu bakti terbaik seorang anak pada orang tuanya dan sangat mudah, murah dan sederhana untuk dilakukan adalah do’a kebaikan terbaik untuk mereka, karena do’a kitalah yang tidak hanya membuat mereka bisa hidup bahagia tapi juga bahkan mampu menyelamatkan mereka dari api neraka dan mengantarkan mereka masuk surga.

Ingatlah suatu saat kitapun akan menjadi orang tua untuk anak-anaknya, apa yang kita perbuat pada orang tua kita itu pulalah nanti yang akan kita dapatkan dari anak-anak kita.Jadilah anak-anak terbaik berbakti, jadilah anak-anak yang mampu berterima kasih, jadilah anak yang membanggakan dan membahagiakan orang tua, dan jadilah anak-anak yang selalu mendo’akan kebaikan untuk orang tuanya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu) : sedekah jariyah,ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (Sang Nabi)

Hari minggu di awal desember
Pertapaan Aster 81
Bandung 2 Desember 2012

Kamis, 29 November 2012

SEKEPING CINTA UNTUK IBU


Malam itu saya bersama si pandir sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi panas di sebuah café yang terletak di daerah perbukitan sambil menikmati indahnya pemandangan dan suasana alam di malam itu. Tiba-tiba tanpa sengaja kami bertemu sepasang suami isteri yang tampak sangat familiar, yah itu ternyata adalah salah seorang kawan lama, dia adalah bani beserta istrinya, senior kami di sebuah organisasi, sudah hitungan tahun kami tidak bertemu.

Kamipun saling menyapa gembira,cukup terharu bisa bertemu secara tak sengaja di tempat itu, lalu kamipun asyik mahsyuk tenggelam dalam perbincangan hangat penuh kerinduan, ternyata kawanku Bani sekarang menjadi seorang relawan di sebuah organisasi kemanusiaan Internasional, dia memiliki jabatan cukup tinggi, dia bercerita berbagai pengalamannya dalam aksi-aksi kemanusiaan, dia bilang sungguh menyenangkan bisa membantu dan membahagiakan banyak orang di berbagai belahan dunia. saya lalu bercanda pada istrinya, wah mbak nggak takut tuh ditinggal-tinggal pergi mas bani, nggak takut mas nya  kepincut cewek-cewek luar?!

Kucandai seperti itu istrinya lalu melirik sambil tersenyum mesra pada suaminya, lalu menggelayutkan diri pada tangan suaminya, saya percaya sekali sama mas bani, dan sudah 15 tahun pernikahan kami, mas bani tetap menjadi seorang pria luar biasa yang selalu mesra dan bisa selalu membahagiakan saya, mendengar ucapan istrinya bani tertawa, lalu dia bilang, setiap ada waktu luang saya selalu mengajak istriku berbulan madu, sedikitnya sekali dalam sebulan, dan kegiatan ini sudah rutin saya lakukan selama 15 tahun masa pernikahan kami, yah tentunya bagaimanapun kebahagiaan keluarga saya adalah nomor satu, bagaimana mungkin saya bergelut menghabiskan hidup saya untuk membahagiakan banyak orang tetapi anak isteri saya tidak mampu saya bahagiakan.

Wah jujur saat itu saya merasa sangat kagum dengan sosok seniorku itu, dia hidup menjadi pahlawan bagi banyak orang dan bagi keluarganya, ditengah saya sedang sibuk mengagumi sosok mas bani ini, kawanku pandir nyeletuk, gimana dengan ibumu mas apa kabar? Terakhir di telpon keadaan nya baik shob, jawab bani, kapan terakhir ketemu Ibu? Tanya pandir lagi, lebaran kemarin shob. Wah lama juga yah mas, sering telpon ibu? Yah lumayan, minimal sebulan sekali saya sempatkan sekalian saya mengirim uang untuk ibu, yah berbagi sedikit kebahagiaan juga dengan ibu shob, jawab bani. Pandir melanjutkan pertanyaannya, yakin mas ibu sudah cukup bahagia dengan kiriman uang dari sampean itu? Selama menikah sudah berapa kali sampean ngajak ibu sampean makan bersama seperti sampean ngajak makan diluar istri sampean?

Mendapat berondongan pertanyaan dari si pandir raut muka mas bani mulai berubah memucat, dengan suara yang berubah menjadi berat mas bani menjawab, astaghfirullaah, terimakasih shob ente udah ngingetin saya, selama 15 tahun setelah saya menikah belum pernah sekalipun saya mengajak ibu saya untuk menikmati makan bersama di luar,saya hanya berfikir saya sudah merasa berbakti dengan mengiriminya uang setiap bulan, tanpa saya pernah bertanya bagaimana ibuku ingin kubahagiakan. Lalu istrinya tersenyum dan berkata mas minggu depan kan kamu libur, coba sekarang telpon ibu dan bilang sama ibu minggu depan kamu bakal ngajak ibu jalan-jalan.

Saat itu juga mas bani menelpon ibunya, sengaja suaranya dia keluarkan lewat loudspeaker biar kami semua mendengarnya, Ibunya mas bani seorang janda,beliau ditinggal mati suaminya saat mas bani duduk di bangku SD,yang akhirnya terpaksa ibunya harus menjadi single parent yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi mas Bani anak semata wayangnya, tiba-tiba terdengar suara tua ibu mas bani mengangkat telpon, lalu ibunya dan mas bani saling bertanya kabar, kemudian mas bani berkata pada ibunya, bu minggu depan bani libur 3 hari, rencananya bani mau ngajak ibu jalan-jalan ke bandung, bani pengen ngajak ibu mengunjungi tempat-tempat yang dulu suka ibu certain sebagai tempat penuh kenangan antara ibu dan ayah, sekalian bani ajak ibu makan di restoran favorit ibu dimana ibu suka ngajak bani makan disitu kalau pas lagi liburan? Gimana bu,kalau ibu bersedia jum’at sore bani jemput? Tanya bani pada ibunya.

Nampaknya ibunya merasa heran, dia malah balik bertanya, anakku apakah terjadi sesuatu padamu? Tidak bu tidak terjadi apa-apa sama Bani,berulang kali ibunya bertanya seperti itu dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh mas bani, setelah yakin akhirnya ibunya mendesah dan bilang syukurlah kalau memang gak terjadi apa-apa sama kamu anakku, beneran nih ibu jalan-jalan sama kamu? iya bu, ibu jalan-jalan sama bani, terus menantu sama cucu ibu diajak juga kan? Iya diajak, tapi nanti istri sama anak bani Cuma bisa nemenin ibu sehari pas hari minggu saja,mereka menyusul nanti,soalnya anak bani kan sekolah bu, yah dengan sangat senang hati ibu mau ban, sudah 15 tahun yah sejak kamu menikah kita belum pernah pergi sama-sama lagi? Iya bu, kalau gitu sampai ketemu hari jum’at yah bu,dan mas banipun mengakhiri telponnya.
Yah itulah cerita saat bersama temanku pandir bertemu dengan mas bani, tiba-tiba seminggu yang lalu kami mendapat kabar kalau ibunya mas Bani meninggal dunia, saya bersama pandir akhirnya memutuskan untuk datang bersama-sama menemui senior kami itu di acara tahlilan 7 hari ibunya mas bani, kami melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah mas bani masih begitu Nampak dengan sangat jelas, saat melihat kedatangan kami, mas bani langsung memeluk kami dan tangisnyapun pecah tak tertahankan.

Setelah selesai acara tahlilan mas bani mengajak kami berbincang di halaman belakang rumahnya, sudah tersedia 3 cangkir kopi dan cemilan, dengan tatapan mata nanar ke langit, mas bani mulai bercerita, tempo hari setelah pertemuan kita di café itu, hari jum’at pekan depannya saya menepati janji saya mengajak ibu jalan-jalan, saat saya menjemputnya, ibu tampak sudah sangat siap dan wajahnya begitu gembira, raut kebahagiaan itu begitu tampak jelas diwajahnya, yang baru kusadari kalau dia ternyata sudah semakin tua, saat melihat mobilku datang,ibu langsung sedikit berlari menghambur keluar menyambutku, saat saya turun dari mobil ibu langsung memeluk dan menciumiku, saat kutanya apa ibu sudah siap? Ibuku menjawab wah ibu sih sudah siap sejak siang tadi, dan semua persiapan sudah ibu lakukan sesaat setelah kamu telpon ibu minggu lalu, dan tau tidak ban, tak ada satu pun tetangga di Blok ini yang tak ibu kabari,mereka iri loh sama ibu, karena punya anak sebaik kamu, dan mereka tiba-tiba banyak yang merengek meminta diajak jalan sama anak-anaknya.

Jujur saat itu muncul perasaan sangat berdosa dihati saya, ternyata sudah begitu lama saya membiarkan ibu dalam kesendirian, nampaknya ibu sangat merindukan saat-saat seperti waktu itu, dan saat yang dinantikannya pun akhirnya datang juga, saat itu kami benar-benar menikmati kebersamaan kami, saya benar-benar melihat ibu yang begitu bahagia, bahkan saat dalam perjalanan menuju bandung kami sempat mampir ke sebuah restaurant,dan kalian tau saat itu ibuku tidak memesan makanan, dia sibuk memandangiku dengan tatapan bahagia, dia bilang selera makan ibu sudah hilang karena ibu terlalu bahagia,gak percaya kalau ibu sekarang lagi bareng sama kamu. Saya pun saat itu menjanjikan pada ibu kalau saya akan mengajak ibu jalan-jalan seperti ini lagi, mendengar janji saya itu ibuku tersenyum bahagia penuh harap. Namun karena terlalu larut dengan kesibukan saya, ternyata sayapun melupakan janji saya sama ibu dan kembali membiarkan ibu berlama-lama dalam kesendirian hingga akhirnya bagai disambar petir saat tiba-tiba saya mendapat telpon dari pembantu setia ibu kalau ibu meninggal saat sedang sujud waktu sholat shubuh.
Tanpa disadari air matapun kembali mengalir dari mata mas bani, setelah menyeka air matanya dan menarik napas panjang, mas bani melanjutkan ceritanya, dan kalian tau, 2 hari setelah kematian ibu, datang seseorang pegawai dari sebuah biro wisata, dia bilang kalau 3 hari lalu berarti sehari sebelum ibuku meninggal beliau datang memesan paket wisata ke Bandung 3 hari untukku dan istriku, dan dia pun menitipkan surat kepadaku, kemudian mas bani menyerahkan surat dari ibunya itu kepadaku untuk kubaca, saya pun membacanya dengan bersuara.

“Bani anakku, sungguh ibu bahagia sekali saat kamu mengajak ibu jalan-jalan tahun lalu, tiada kebahagiaan yang terbaik buat ibu kecuali ibu bisa menikmati hari-hari bergembira bersama kamu, juga bersama istri dan anakmu, anak ku, tahukah kamu, ibu sangat bangga terhadap kamu, tidak sia-sia ibu membesarkan kamu, ternyata kamu bisa menjadi orang yang bemanfaat buat banyak orang, setiap sehabis kamu telpon dan kamu cerita petualangan kamu keliling dunia membantu banyak orang, ibu selalu menceritakan kembali cerita itu dengan bangga kepada para tetangga dan ibu-ibu pengajian, dan tau kah kamu mereka begitu senang mendengarnya dan begitu iri sama ibu,apalagi saat kamu mengajak ibu berlibur,itulah hari yang paling membahagiakan buat ibu.

Ibu senang kamu mengirimi uang tiap bulan pada ibu, itu menunjukkan betapa kamu adalah anak yang tau balas budi dan berbakti pada ibumu, tapi bukan lah materi yang ibu inginkan, ibu hanya ingin melihatmu bahagia, makanya kenapa ibu tak pernah mau sengaja menghubungimu terlebih dahulu serindu apapun ibu kepadamu,karena ibu takut mengganggumu,dan saat kamu menghubungi ibu itulah saat yang paling ibu tunggu walaupun hanya sebulan sekali,melihat kamu bahagia dan bisa menceritakan dirimu dengan sedikit kebanggaan itu sudah sangat cukup buat ibu.

Uang setiap bulan kamu kirimkan tidak sepeserpun ibu gunakan,karena uang pensiun ibu pun masih cukup untuk menghidupi ibu, uang itu sengaja ibu kumpulkan dan ibu belikan sawah serta ibu buatkan rumah penggilingan padi, bukan apa-apa bila suatu saat nanti kamu sudah tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanmu yang sekarang kamu tidak menganggur dan tidak kekurangan biaya untuk istri dan anak-anakmu, sekarang sawah dan rumah penggilingan padi itu di urus sama anak nya mbok iyem pembantu setia kita.

Anakku, ibu menunggu-nunggu saat kamu mengajak ibu kembali jalan-jalan dan berlibur bersama seperti yang kamu janjikan, namun ibu sungguh tau kalau ibu tak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi karena ibu tau kalau basok Allah akan menjemput ibu. Dan saat kamu bilang saat itu ingin mengajak ibu  berlibur lagi, ibu sudah berjanji pada diri ibu sendiri kalau nanti biar ibu yang menanggung biayanya, biar ibu merasakan lagi walaupun hanya sekali ibu memberi nafkah dan masih bisa berguna untuk anakku, maka dari itu ibu belikan paket liburan ini untukmu bersama istrimu sebagai pengganti ibu.

Semoga Allah selalu menjaga dirimu dan keluargamu, serta selalu melimpahkan kasih sayang –Nya untukmu dan keluargamu.”

Saya sungguh tak kuasa menahan air mata jatuh mengalir basahi wajah ini, bahkan si pandir orang yang super slengean itu pun menangis sesegukan. Saya sadar selama ini saya salah besar, berpikir bahwa orang tua saya membutuhkan balas budi, dan saya selalu berpikir ingin membahagiakan mereka dengan materi untuk membayar atas semua biaya yang telah mereka keluarkan buat saya, padahal sampai kapanpun saya tak akan pernah mampu membalasnya. Dan saya akhirnya sadar bila ternyata bukan materi yang orang tua butuhkan, tetapi melihat anaknya bahagia, mungkin hanya sedikit berharap suatu saat bisa membanggakan anaknya pada saudara, tetangga dan teman-temannya.
Saya teringat sebuah sya’ir tentang ibu berikut ini :

BALAS BUDI UNTUK IBU

Ketika usiamu 1 tahun, ia menyuapi dan memandikanmu
Kau membalasnya dengan menangis sepanjang malam

Ketika usiamu 2 tahun, ia mengajarimu melangahkan kaki
Kau membalasnya dengan lari menjauh kala dia memanggilmu

Ketika usiamu 3 tahun, ia menyiapkan sarapanmu dengan segala cinta kasih
Kau membaasnya dengan membanting piring di lantai

Ketika usiamu 4 tahun, ia memberimu seperangkat krayon
Kau membalasnya dengan mencorat-coret meja makan

Ketika usiamu 5 tahun, ia mengenakanmu pakaian untuk berlibur
Kau membalasnya dengan bermain-main di onggokan lumpur

Ketika usiamu 6 tahun, ia mengantarkanmu ke sekolah
Kau membalasnya dengan berteriak : “AKU NGGAK MAU SEKOLAH!”

Ketika usiamu 7 tahun, ia menghadiahimu bola sepak
Kau membalasnya dengan melemparkannya ke jendela tetangga sebelah

Ketika usiamu 8 tahun, ia memberimu es krim
Kau membalasnya dengan menciprat-cipratkannya di sekujur badanmu

Ketika usiamu 9 tahun, ia memanggilkanmu guru les piano
Kau membalasnya dengan bermalas-malasan untuk berlatih

Ketika usiamu 10 tahun, ia mengantarmu sepanjang hari, Dari main bola hingga senam, dari satu pesta ulang tahun ke pesta ulang tahun lainnya
Kau membalasnya dengan melompat dari mobil dengan secepat kilat tanpa menengok lagi

Ketika usiamu 11 tahun, ia membawamu dan teman-temanmu nonton film
Kau membalasnya dengan memintanya duduk di barisan lain

Ketika usiamu 12 tahun, ia menegurmu untuk tidak menonton acara TV tertentu
Kau membalasnya dengan menunggunya hingga ia bepergian

Ketika usiamu 13 tahun, ia memintamu memotong rambut baru
Kau membalasnya dengan mengatakan bahwa ia tiadak punya selera

Ketika usiamu 14 tahun, ia membayarkanmu ongkos untuk 1 bulan berlibur
Kau membalasnya dengan tak sekalipun mengiriminya kabar

Ketika usiamu 15 tahun, ia pulang bekerja, dan mengharap mendapatkan pelukanmu
Kau membalasnya dengan mengunci kamar tidurmu
Ketika usiamu 16 tahun, ia mengajarimu mengendarai mobil
Kau membalasnya dengan mencuri-curi tiap kesempatan

Ketika usiamu 17 tahun, ia mengharapkan telepon penting
Kau membalasnya dengan menggunakan telepon sepanjang malam

Ketika usiamu 18 tahun, ia menangis di hari kelulusan sekolahmu
Kau membalasnya dengan pergi berpesta sampai pagi

Ketika usiamu 19 tahun, ia membayarkan uang SPP perguruan tinggimu, dan mengantarmu membawakan tas ke kampus.
Kau membalasnya dengan mengucapkan selamat tinggal di pintu gerbang asrama agar tidak merasa malu pada teman-teman

Ketika usiamu 20 tahun, ia bertanya apakah kamu telah menaksir seseorang
Kau membalasnya dengan mengatakan “itu bukan urusanmu.”

Ketika usiamu 21 tahun, ia mengusulkan satu pekerjaan untuk karir masa depanmu.
Kau membalasnya dengan mengatakan “aku tak ingin seperti kamu.”

Ketika usiamu 22 tahun, ia memelukmu di hariwisudamu
Kau membalasnya dengan meminta ditraktir liburan ke Eropa

Ketika usiamu 23 tahun, ia menghadiahimu furnitur untuk apartemen pertamamu
Kau membalasnya dengan menyebut furnitur itu kepada teman-temanmu sebagai barang rongsokan

Ketika usiamu 24 tahun, ia menjumpai tunanganmu dan menanyakan rencana masa depanmu
Kau membalasnya dengan mengatakan “Uuuuhhh, Ibuuu...!”

Ketika usiamu 25 tahun, ia membantu membiayai pesta perkawinanmu, dan ia menangis haru, dan ia mengatakan betapa ia mencintaimu.
Kau membalasnya dengan pindah kota menjauhinya

Ketika usiamu 30 tahun, ia menelpon dan memberimu nasihat tentang bayimu.
Kau membalasnya dengan mengguruinya “Semua kini sudah berbeda.”

Ketika usiamu 40 tahun, ia menelpon dan mengingatkan hari ulang tahun familimu
Kau membalasnya dengan mengatakan “Ahhh, betapa sibuknya aku sekarang”

Ketika usiamu 50 tahun, ia sakit-sakitan dan membutuhkanmu untuk menjagainya
Kau membalasnya dengan membacakan kisah betapa merepotkannya orang tua bagi anak-anaknya

Sampai suatu hari ia pergi untuk selamanya. Dan segala yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya, bagai halilintar menyambar JANTUNGMU.

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali- kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al Isra’: 23-24)

“Duhai tuhan ampunilah segala dosa ibu dan bapak ku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku dari sejak aku kecil, dan jadikanlah aku seorang anak yang berbakti dan tau berterimakasih”
Pertapaan Aster 81
Jum’at Dini Hari
30 November 2012